ASKEP ANAK DENGAN PNEUMONIA

PENGERTIAN PNEUMONIA

  1. ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) merupakan padanan istilah : Acute Respiratory Infections (ARI).
  2. ISPA mengandung 3 unsur, yaitu :
    1. Infeksi.
    2. Saluran pernafasan.
    3. Akut.

Batasan-batasan masing-masing unsur :

a. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak, sehingga menimbulkan gejala penyakit.

b. Saluran pernafasan adalah organ yang mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura à ISPS à secara anatomis mencakup saluran pernafasan bagian atas, saluran pernafasan bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksa saluran pernafasan.

c. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari (batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun ISPA dapat lebih 14 hari).

Pneumonia :

  1. Pneumonia pada anak seringkali bersamaan terjadinya proses infeksi akut pada bronchus dan disebut bronchopneumonia.
  2. Terjadinya pneumonia pada anak seringkali bersamaan dengan terjadinya proses infeksi akut pada bronchus (bronchopneumonia). Dalam pelaksanaan program P2 ISPA semua bentuk pneumonia (baik pneumonia maupun bronchopneumonia) disebut Pneumonia.

Pneumonia adalah merupakan infeksi akut yang secara anatomi mengenai lobus paru.

Pneumonia Berdasarkan Penyebab :

  1. Pneumonia bakteri.
  2. Pneumonia virus.
  3. Pneumonia Jamur.
  4. Pneumonia aspirasi.
  5. Pneumonia hipostatik.

Pneumonia berdasarkan anatomic :

  1. Pneumonia lobaris à radang paru-paru yang mengenai sebagian besar/seluruh lobus paru-paru.
  2. Pneumonia lobularis (bronchopneumonia) à radang pada paru-paru yang mengenai satu/beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrate.
  3. Pneumonia interstitialis (bronkhiolitis) à radang pada dinding alveoli (interstitium) dan peribronkhial dan jaringan interlobular.

Patofisiologi Bronkhopneumonia :

  1. Bronkhopneumonia lebih sering merupakan infeksi sekunder.
  2. Keadaan yang dapat menyebabkan bronchopneumonia adalah pertusis, morbili, penyakit lain yang disertai dengan infeksi saluran pernafasan atas, gizi buruk, paska bedah atau kondisi terminal.

Etiologi :

  1. Streptokokus.
  2. Stapilokokus.
  3. Pneumokokus.
  4. Hemovirus Influenza.
  5. Pseudomonas.
  6. Fungus.
  7. Basil colli.

Sehingga menimbulkan :

  1. Reaksi radang pada bronchus dan alveolus dan sekitarnya.
  2. Lumen bronkhiolus terisi eksudat dan sel epitel yang rusak.
  3. Dinding bronkhiolus yang rusak mengalami fibrosis dan pelebaran.
  4. Sebagian jaringan paru-paru mengalami etelektasis/kolaps alveoli, emfisema hal ini disebabkan karena menurunnya kapasitas fungsi paru dan penurunan produksi surfaktan.

Gejala Klinis :

  1. Biasanya didahului infeksi saluran pernafasan bagian atas. Suhu dapat naik secara mendadak (38 – 40 ºC), dapat disertai kejang (karena demam tinggi).
  2. Gejala khas :
    1. Sianosis pada mulut dan hidung.
    2. Sesak nafas, pernafasan cepat dan dangkal disertai pernafasan cuping hidung.
    3. Gelisah, cepat lelah.
  3. Batuk à mula-mula kering à produktif.
  4. Kadang-kadang muntah dan diare, anoreksia.
  5. Pemeriksaan laboratorium = lekositosis.
  6. Foto thorak = bercak infiltrate pada satu lobus/beberapa lobus.

Komplikasi :

Bila tidak ditangani secara tepat à

  1. Otitis media akut (OMA) à terjadi bila tidak diobati, maka sputum yang berlebihan akan masuk ke dalam tuba eustachius, sehingga menghalangi masuknya udara ke telinga tengah dan mengakibatkan hampa udara, kemudian gendang telinga akan tertarik ke dalam dan timbul efusi.
  2. Efusi pleura.
  3. Emfisema.
  4. Meningitis.
  5. Abses otak.
  6. Endokarditis.
  7. Osteomielitis.

Penatalaksanaan :

  1. Oksigen.
  2. Cairan, kalori dan elektrolit à glukosa 10 % : NaCl 0,9 % = 3 : 1 ditambah larutan KCl 10 mEq/500 ml cairan infuse.
  3. Obat-obatan :
    1. Antibiotika à berdasarkan etiologi.
    2. Kortikosteroid à bila banyak lender.

Prognosa : dengan pemberian antibiotic yang tepat, mortalitas dapat menurun.

ASUHAN KEPERAWATAN

  1. Pengkajian
    1. Riwayat Kesehatan :

1)      Adanya riwayat infeksi saluran pernafasan sebelumnya/batuk, pilek, takhipnea, demam.

2)      Anoreksia, sukar menelan, muntah.

3)      Riwayat penyakit yang berhubungan dengan imunitas, seperti ; morbili, pertusis, malnutrisi, imunosupresi.

4)      Anggota keluarga lain yang mengalami sakit saluran pernafasan.

5)      Batuk produktif, pernafasan cuping hidung, pernafasan cepat dan dangkal, gelisah, sianosis.

2. Pemeriksaan Fisik :

1)      Demam, takhipnea, sianosis, cuping hidung.

2)      Auskultasi paru à ronchi basah, stridor.

3)      Laboratorium à lekositosis, AGD abnormal, LED meningkat.

4)      Roentgen dada à abnormal (bercak konsolidasi yang tersebar pada kedua paru).

3. Faktor Psikososial/Perkembangan :

1)      Usia, tingkat perkembangan.

2)      Toleransi/kemampuan memahami tindakan.

3)      Koping.

4)      Pengalaman berpisah dengan keluarga/orang tua.

5)      Pengalaman infeksi saluran pernafasan sebelumnya.

4. Pengetahuan Keluarga, Psikososial :

1)      Tingkat pengetahuan keluarga tentang penyakit bronchopneumonia.

2)      Pengalaman keluarga dalam menangani penyakit saluran pernafasan.

3)      Kesiapan/kemauan keluarga untuk belajar merawat anaknya.

4)      Koping keluarga.

5)      Tingkat kecemasan.

2. Diagnosa Keperawatan

    1. Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan peradangan, penumpukan secret.
    2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane kapiler alveolus.
    3. Berkurangnya volume cairan berhubungan dengan intake oral tidak adekuat, demam, takipnea.
    4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan menurunnya kadar oksigen darah.
    5. Perubahan rasa nyaman berhubungan dengan demam, dispnea, nyeri dada.
    6. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi.
    7. Kurangnya pengetahuan orang tua tentang perawatan anak setelah pulang dari rumah sakit.
    8. Kecemasan berhubungan dengan dampak hospitalisasi.
  1. Intervensi

a.   Dx. : Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan peradangan, penumpukan secret.

Tujuan : Jalan nafas efektif, ventilasi paru adekuat dan tidak ada penumpukan secret.

Rencana tindakan :

1)      Monitor status respiratori setiap 2 jam, kaji adanya peningkatan status pernafasan dan bunyi nafas abnormal.

2)      Lakukan perkusi, vibrasi dan postural drainage setiap 4 – 6 jam.

3)      Beri therapy oksigen sesuai program.

4)      Bantu membatukkan sekresi/pengisapan lender.

5)      Beri posisi yang nyaman yang memudahkan pasien bernafas.

6)      Ciptakan lingkungan yang nyaman sehingga pasien dapat tidur tenang.

7)      Monitor analisa gas darah untuk mengkaji status pernafasan.

8)      Beri minum yang cukup.

9)      Sediakan sputum untuk kultur/test sensitifitas.

10)  Kelolaa pemberian antibiotic dan obat lain sesuai program.

b.   Dx. : Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane kapiler alveolus.

Tujuan : Pasien memperlihatkan perbaikan ventilasi, pertukaran gas secara optimal dan oksigenasi jaringan secara adekuat.

Rencana Tindakan :

1)      Observasi tingkat kesadaran, status pernafasan, tanda-tanda sianosis setiap 2 jam.

2)      Beri posisi fowler/semi fowler.

3)      Beri oksigen sesuai program.

4)      Monitor analisa gas darah.

5)      Ciptakan lingkungan yang tenang dan kenyamanan pasien.

6)      Cegah terjadinya kelelahan pada pasien.

c. Dx. : Berkurangnya volume cairan berhubungan dengan intake oral tidak adekuat, demam, takipnea.

Tujuan : Pasien akan mempertahankan cairan tubuh yang normal.

Rencana Tindakan :

1)      Catat intake dan out put cairan. Anjurkan ibu untuk tetaap memberi cairan peroral à hindari milk yang kental/minum yang dingin à merangsang batuk.

2)      Monitor keseimbangan cairan à membrane mukosa, turgor kulit, nadi cepat, kesadaran menurun, tanda-tyanda vital.

3)      Pertahankan keakuratan tetesan infuse sesuai program.

4)      Lakukan oral hygiene.

d. Dx. : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan menurunnya kadar oksigen darah.

Tujuan : Pasien dapat melakukan aktivitas sesuai kondisi.

Rencana Tindakan :

1)      Kaji toleransi fisik pasien.

2)      Bantu pasien dalam aktifitas dari kegiatan sehari-hari.

3)      Sediakan permainan yang sesuai usia pasien dengan aktivitas yang tidak mengeluarkan energi banyak à sesuaikan aktifitas dengan kondisinya.

4)      Beri O2 sesuai program.

5)      Beri pemenuhan kebutuhan energi.

e. Dx. : Perubahan rasa nyaman berhubungan dengan demam, dispnea, nyeri dada.

Tujuan : Pasien akan memperlihatkan sesak dan keluhan nyeri berkurang, dapat batuk efektif dan suhu normal.

Rencana Tindakan :

1)      Cek suhu setiap 4 jam, jika suhu naik beri kompres dingin.

2)      Kelola pemberian antipiretik dan anlgesik serta antibiotic sesuai program.

3)      Bantu pasien pada posisi yang nyaman baginya.

4)      Bantu menekan dada pakai bantal saat batuk.

5)      Usahakan pasien dapat istirahat/tidur yang cukup.

f. Dx. : Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi.

Tujuan : Suhu tubuh dalam batas normal.

Rencana Tindakan :

1)      Observasi tanda-tanda vital setiap 2 jam.

2)      Beri kompres dingin.

3)      Kelola pemberian antipiretik dan antibiotic.

4)      Beri minum peroral secara hati-hati, monitor keakuratan tetesan infuse.

g. Dx. : Kurangnya pengetahuan orang tua tentang perawatan anak setelah pulang dari rumah sakit.

Tujuan : Anak dapat beraktifitas secara normal dan orang tua tahu tahap-tahap yang harus diambil bila infeksi terjadi lagi.

Rencana Tindakan :

1)      Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang perawatan anak dengan bronchopneumonia.

2)      Bantu orang tua untuk mengembangkan rencana asuhan di rumah ; keseimbangan diit, istirahat dan aktifitas yang sesuai.

3)      Tekankan perlunya melindungi anak kontak dengan anak lain sampai dengan status RR kembali normal.

4)      Ajarkan pemberian antibiotic sesuai program.

5)      Ajarkan cara mendeteksi kambuhnya penyakit.

6)      Beritahu tempat yang harus dihubungi bila kambuh.

7)      Beri reinforcement untuk perilaku yang positif.

h. Dx. : Kecemasan berhubungan dengan dampak hospitalisasi.

Tujuan : Kecemasan teratasi.

Rencana Tindakan :

1)      Kaji tingkat kecemasan anak.

2)      Fasilitasi rasa aman dengan cara ibu berperan serta merawat anaknya.

3)      Dorong ibu untuk selalu mensupport anaknya dengan cara ibu selalu berada di dekat anaknya.

4)      Jelaskan dengan bahasa sederhana tentang tindakan yang dilakukan à tujuan, manfaat, bagaimana dia merasakannya.

5)      Beri reinforcement untuk perilaku yang positif.

  1. Implementasi

Prinsip implementasi :

  1. Observasi status pernafasan seperti bunyi nafas dan frekuensi setiap 2 jam, lakukan fisioterapi dada setiap 4 – 6 jam dan lakukan pengeluaran secret melalui batuk atau pengisapan, beri O2 sesuai program.
  2. Observasi status hidrasi untuk mengetahui keseimbangan intake dan out put.
  3. Monitor suhu tubuh.
  4. Tingkatkan istirahat pasien dan aktifitas disesuaikan dengan kondisi pasien.
  5. Perlu partisipasi orang tua dalam merawat anaknya di RS.
  6. Beri pengetahuan pada orang tua tentang bagaimana merawat anaknya dengan bronchopneumonia.
  1. Evaluasi.

Hasil evaluasi yang ingin dicaapai :

  1. Jalan nafas efektif, fungsi pernafasan baik.
  2. Analisa gas darah normal.

KONSEP MANUSIA

KONSEP MANUSIA

a. Manusia sebagai mahluk holistic

Holistik berarti keseluruhan / utuh

A. MODEL OF THE COMPONENTS OF THE HOLISTIC PERSON

BIOLOGIC

* Manusia merupakan suatu susunan system organ tubuh

* Mempunyai kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya

* Tidak terlepas dari hukum alam dilahirkan berkembang à mati

PSIKOLOGIK

* Manusia mempunyai struktur kepribadian

* Tingkah laku  sebagai manifestasi dari kejiwaan

* Mempunyai daya fikir dan kecerdasan

* Mempunyai kebutuhan psikologi agar pribadi dapat berkembang

SOSIAL

* Manusia perlu hidup bersama orang lain dan saling kerja sama untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidupnya

* Dipengaruhi oleh kebudayaan

* Dipengaruhi dan beradaptasi dengan lingkungan social

* Dituntut untuk bertingkah laku sesuai dengan harapan dan norma yang ada

KULTURAL

* Manusia mempunyai nilai dan kebudayaan yang membentuk jatidirinya

* Sebagai pembeda dan pembatas dalam hidup sosial

* Kultur dalam diri manusia bisa diubah dan berubah tergantung lingkungan manusia hidup.

SPIRITUAL

* Mempunyai keyakinan / mengaku adanya Tuhan

* Memiliki  pandangan hidup, dorongan hidup yang sejalan dengan sifat religius yang dianutnya

Teori Holistik à Seluruh organisme hidup saling berinteraksi. Adanya gangguan pada satu bagian akan  mempengaruhi bagian yang lain. Jika mempelajari satu bagian dari manusia harus mempertimbangkan bagaimana bagian tersebut berhubungan dengan bagian yang lain.

PERAWAT

Harus  mempertimbangkan interaksi individu dengan lingkungan eksternal

B. Manusia sebagai system

Sistem terdiri dari :

-          Unsur – unsur  { kompenen , elemen , sub system }

-          Batasan

-          Tujuan

Manusia sebagai system terbuka yang terdiri dari berbagai sub system yang saling berhubungan secara terintegrasi untuk menjadi satu total system

* Komponen Biologik à anatomi tubuh

* Komponen Psikologik à kejiwaan

* Komponen Sosial à lingkungan

* Komponen Kultural à nilai budaya

* Komponen Spiritual à Kepercayaan agama

Manusia sebagai system adaptif

Adaptasi à  Proses perubahan yang menyertai individu dalam berespon terhadap    perubahan  lingkungan mempengaruhi integritas atau keutuhan

Lingkungan : seluruh kondisi keadaan sekitar yang mempengaruhi perkembangan organisme atau kelompok organisme

4 Tingkatan dan respon fisiologik untuk memudahkan adaptasi

-          Respon takut { mekanisme bertarung }

-          Respon inflamasi

-          Respon stress dan

-          Respon sensori

Roy { 1976 } à Prilaku adaptif merupakan perilaku individu secara utuh

Beradaptasi dan menangani rangsang lingkungan

Manusia sebagai system personal, interpersonal dan social

King { 1976 } : 3 dinamik system interaksi dalam konsep manusia

Individu                                      Keluarga                                     Masyarakat

{ system personal }    { system interpersonal }              { Sistem social }

Perawat harus me          Perawat harus me         Perawat harus mengerti tentang

ngerti  tentang                  ngerti tentang               Konsep :

Konsep :                                Konsep                         – organisasi

-          Self                             – interaksi                      – power

-          Persepsi                   – peran                           – otoritas

-          tumbuh                    – komunikasi                 – pengambilan keputusan

kembang

Kebutuhan dasar manusia

King Perubahan energi didalam maupun diluar organisme yang ditujukan melalui respon perilaku terhadap situasi kejadian dan orang

Roy Kebutuhan individu yang menstimulasi respon untuk mempertahankan integritas

Abraham Maslow { 1970 } mengembangkan teori  KDM :

Hirarki kebutuhan manusia

Kebutuhan pada satu tingkat harus terpenuhi sebelum beralih ke tingkat berikutnya

5 Kategori kebutuhan dasar manusia menurut Maslow :

1.      Kebutuhan fisiologis  { Physiologic needs }

2.      Kebutuhan rasa aman dan perlindungan { safety and security needs }

3.      Kebutuhan rasa cinta, memiliki dan dimiliki { love and belonging needs }

4.      Kebutuhan harga diri { self-esteem needs }

5.      Kebutuhan perwujudan diri { need for self actualization }

Kebutuhan Fisiologis

-          Oksigen dan pertukaran gas

-          Cairan

-          Makanan

-          Eliminasi

-          Istirahat dan tidur

-          Aktifitas

-          Keseimbangan temperatur tubuh

-          Sex

Kebutuhan rasa aman { aspek fisik dan psikologi }

-          Kebutuhan akan perlindungan dari udara, dingin, panas, kecelakaan, infeksi

-          Bebas dari ketakutan, kecemasan

Kebutuhan rasa cinta, memiliki, dan dimiliki

-          Memberi dan menerima kasih sayang, kehangatan, persahahatan

-          Mendapat tempat dalam keluarga dan kelompok social

Kebutuhan harga diri

-          Perasaan tidak tergantung, kompeten, respek terhadap diri sendiri dan orang lain

Kebutuhan perwujudan diri

-          Dapat mengenal diri dengan baik tidak emosional, punya dedikasi tinggi, kreatif, percaya diri dan sebagainya

Karakteristik kebutuhan dasar manusia :

1.         Setiap orang mempunyai kebutuhan dasar yang sama dimana setiap kebutuhan dimodifikasi sesuai dengan kultur.

2.         Seseorang memenuhi kebutuhannya sesuai prioritas.

3.         Walaupun kebutuhan umumnya harus dipenuhi, beberapa kebutuhan dapat ditunda.

4.         Kegagalan dalam memenuhi kebutuhan menghasilkan ketidak-seimbangan hemeostatik yaitu sakit.

5.         Kebutuhan dapat membuat seseorang berfikir dan bergerak untuk memenuhi rangsang internal dan eksternal.

6.         Seseorang dapat merasakan adanya kebutuhan dapat berespon dengan berbagai cara.

7.         Kebutuhan saling berkaitan beberapa kebutuhan yang tidak terpenuhi akan mempengaruhi kebutuhan lainnya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemenuhan kebutuhan :

1.         Penyakit

Berhubungan dengan kemampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan. Perawat dapat membantu pasien untuk memenuhi kebutuhan pada setiap saat.

2.         Hubungan yang berarti

Keluarga, support person

Perawat dapat membina hubungan yang berarti dengan pasien. Dapat membantu pasien menyadari kebutuhan mereka dan mengembangkan cara yang sehat untuk memenuhi kebutuhan.

3.         Konsep diri

Mempunyai kemampuan individu untuk memenuhi kebutuhan dan juga kesadarannya apakah kebutuhan tepenuhi atau tidak. Orang yang merasa dirinya baik, mudah untuk berubah, mengenal kebutuhan dan mengembangkan cara yang sehat untuk memenuhi kebutuhan.

4.         Tahap perkembangan

a.       Erikson : jika individu dapat membina hubungan intimacy, maka kebutuhan cinta dan  rasa memiliki terpenuhi.

b.      Maslow :   kebutuhan aktualisasi dirinya utuh mempunyai karakteristik sebagai berikut :

1)  Realistik, melihat kehidupan secara penuh dan objektif, tentang apa yang diobservasinya.

2)        Cepat menyesuaikan diri dengan orang lain.

3)        Mempunyai persepsi yang tinggi dan tegas.

4)        Mempunyai dugaan yang benar terhadap sesuatu kebenaran dan kesalahan.

5)        Sering / selalu akurat dalam memprediksi kejadaian yang akan dating.

6)        Mengerti seni, musik, politik dan filosofi.

7)        Rendah hati, mendengar orang lain dengan penuh perhatian.

8)        Mempunyai dedikasi untuk bekerja sama, bertugas dari tempat kerja.

9)        Berkreatifitas, fleksibel, spontan, berani dan sudi mengakui kesalahan.

10)    Terbuka ide-ide baru.

11)    Percaya diri dan menghargai diri.

12)    Konfliks diri yang rendah, kepribadian yang interaksi.

13)    Menghargai diri sendiri, tidak membutuhkan kemasyura, mempunyai perasaan kontrol terhadap diri sendiri.

14)    Kemandirian tinggi, mempunyai hasrat privacy.

15)    Dapat tampil, tidak mengecilkan diri, objektif dan tidak memihak.

16)    Bersahabat, menyayangi dan lebih banyak menentukan dilingkungannya.

17)    Dapat mengambil keputusan apabila ada pertentangan pendapat.

18)    Berfokus pada masalah { problem centred } tidak berfokus pada pribadi.

19)    Menerima dunianya apa adanya.

Kesimpulan :

-          Tidak semua manusia terpenuhi kebutuhan aktualisasi diri secara utuh.

-          Maslow tidak percaya bahwa inteligensia akan memenuhi kebutuhan aktualisasi diri.

-          Maslow mempelajari bahwa aktualisasi diri dihasilkan karena kematangan.

Seseorang terpenuhi aktualisasi diri akan

-          Mungkin tidak selalu berbahagia.

-          Sukses dan menyesuaikan diri dengan baik.

-          Pernah merasa ragu-ragu.

-          Merasakan kegagalan dan takut.

-          Mempunyai kemampuan berjanji secara positif mengenai ketakutan, kegagalan, kelemahan.

Richard Kosh { 1977 } à mengadaptir hirarki Maslow dan membenarkan kategori kebutuhan diantara kebutuhan fisiologis dan kebutuhan rasa aman mencakup sex, aktifitas, eksplorasi, manipulasi, novelty.

R. Kosh menegaskan :

-          Kebutuhan anak-anak untuk mengeksplorasi

-          Manipulasi lingkungan untuk meningkatkan perkembangan dan pertumbuhan secara optimal.

Karakteristik kebutuhan dasar :

1.         Semua manusia mempunyai kebutuhan dasar yang sama

a.       Kebutuhan perseorang akan dimodifikasi sesuai kultur.

b.      Persepsi terhadap kebutuhan bervariasi tergantung kemampuan belajar dan stndard kebudayaan.

2.         Manusia memenuhi kebutuhan dasar mereka tergantung kepada prioritasnya.

3.         Kebutuhan dasar secara umum harus dipenuhi, beberapa kebutuhan dapat ditunda.

4.         4.Kelemahan dalam mendapatkan kebutuhan satu atau lebih dapat menimbulkan homeostasis   imbalance, tidak dapat terpenuhi sakit.

5.         Kebutuhan dapat ditimbulkan oleh berbagai rangsangan eksternal / internal

Internal à rasa lapar à membuat seseorang berfikir tentang makanan.

Eksternal à bentuk kue yang menarik.

6.         Seseorang yang merasakan kebutuhannya dapat menanggapi berbagai cara untuk mendapatkannya. Memilik respon, sebagian besar tergantung kepada pengalaman belajar, nilai, budaya.

7.         Kebutuhan-kebutuhan saling berinteraksi, beberapa kebutuhan tidak terpenuhi akan mempengaruhi kebutuhan lain.

KONSEP DIRI

Konsep Diri

Masalah-masalah rumit yang dialami manusia, seringkali dan bahkan hampir semua, sebenarnya berasal dari dalam diri. Mereka tanpa sadar menciptakan mata rantai masalah yang berakar dari problem konsep diri. Dengan kemampuan berpikir dan menilai, manusia malah suka menilai yang macam-macam terhadap diri sendiri maupun sesuatu atau orang lain – dan bahkan meyakini persepsinya yang belum tentu obyektif. Dari situlah muncul problem seperti inferioritas, kurang percaya diri, dan hobi mengkritik diri sendiri. Artikel berikut akan mengulas tentang konsep diri, apa dan bagaimana konsep diri berpengaruh terhadap munculnya problem yang dialami manusia sehari-hari.

A.    Konsep Diri

Konsep diri dapat didefinisikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang terhadap dirinya. Seseorang dikatakan mempunyai konsep diri negatif jika ia meyakini dan memandang bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa, tidak kompeten, gagal, malang, tidak menarik, tidak disukai dan kehilangan daya tarik terhadap hidup. Orang dengan konsep diri negatif akan cenderung bersikap pesimistik terhadap kehidupan dan kesempatan yang dihadapinya. Ia tidak melihat tantangan sebagai kesempatan, namun lebih sebagai halangan. Orang dengan konsep diri negatif, akan mudah menyerah sebelum berperang dan jika gagal, akan ada dua pihak yang disalahkan, entah itu menyalahkan diri sendiri (secara negatif) atau menyalahkan orang lain.

Sebaliknya seseorang dengan konsep diri yang positif akan terlihat lebih optimis, penuh percaya diri dan selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu, juga terhadap kegagalan yang dialaminya. Kegagalan bukan dipandang sebagai kematian, namun lebih menjadikannya sebagai penemuan dan pelajaran berharga untuk melangkah ke depan. Orang dengan konsep diri yang positif akan mampu menghargai dirinya dan melihat hal-hal yang positif yang dapat dilakukan demi keberhasilan di masa yang akan datang.

B.    Proses Pembentukan Konsep Diri

Konsep diri terbentuk melalui proses belajar sejak masa pertumbuhan seorang manusia dari kecil hingga dewasa. Lingkungan, pengalaman dan pola asuh orang tua turut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap konsep diri yang terbentuk. Sikap atau respon orang tua dan lingkungan akan menjadi bahan informasi bagi anak untuk menilai siapa dirinya. Oleh sebab itu, seringkali anak-anak yang tumbuh dan dibesarkan dalam pola asuh yang keliru dan negatif, atau pun lingkungan yang kurang mendukung, cenderung mempunyai konsep diri yang negatif. Hal ini disebabkan sikap orang tua yang misalnya : suka memukul, mengabaikan, kurang memperhatikan, melecehkan, menghina, bersikap tidak adil, tidak pernah memuji, suka marah-marah, dsb – dianggap sebagai hukuman akibat kekurangan, kesalahan atau pun kebodohan dirinya. Jadi anak menilai dirinya berdasarkan apa yang dia alami dan dapatkan dari lingkungan. Jika lingkungan memberikan sikap yang baik dan positif, maka anak akan merasa dirinya cukup berharga sehingga tumbuhlah konsep diri yang positif.

Konsep diri ini mempunyai sifat yang dinamis, artinya tidak luput dari perubahan. Ada aspek-aspek yang bisa bertahan dalam jangka waktu tertentu, namun ada pula yang mudah sekali berubah sesuai dengan situasi sesaat. Misalnya, seorang merasa dirinya pandai dan selalu berhasil mendapatkan nilai baik, namun suatu ketika dia mendapat angka merah. Bisa saja saat itu ia jadi merasa “bodoh”, namun karena dasar keyakinannya yang positif, ia berusaha memperbaiki nilai.

C.    Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri

Berbagai faktor dapat mempengaruhi proses pembentukan konsep diri seseorang, seperti :

1.    Pola asuh orang tua

Pola asuh orang tua seperti sudah diuraikan di atas turut menjadi faktor signifikan dalam mempengaruhi konsep diri yang terbentuk. Sikap positif orang tua yang terbaca oleh anak, akan menumbuhkan konsep dan pemikiran yang positif serta sikap menghargai diri sendiri. Sikap negatif orang tua akan mengundang pertanyaan pada anak, dan menimbulkan asumsi bahwa dirinya tidak cukup berharga untuk dikasihi, untuk disayangi dan dihargai; dan semua itu akibat kekurangan yang ada padanya sehingga orang tua tidak sayang.

2. Kegagalan

Kegagalan yang terus menerus dialami seringkali menimbulkan pertanyaan kepada diri sendiri dan berakhir dengan kesimpulan bahwa semua penyebabnya terletak pada kelemahan diri. Kegagalan membuat orang merasa dirinya tidak berguna.

3.    Depresi

Orang yang sedang mengalami depresi akan mempunyai pemikiran yang cenderung negatif dalam memandang dan merespon segala sesuatunya, termasuk menilai diri sendiri. Segala situasi atau stimulus yang netral akan dipersepsi secara negatif. Misalnya, tidak diundang ke sebuah pesta, maka berpikir bahwa karena saya “miskin” maka saya tidak pantas diundang. Orang yang depresi sulit melihat apakah dirinya mampu survive menjalani kehidupan selanjutnya. Orang yang depresi akan menjadi super sensitif dan cenderung mudah tersinggung atau “termakan” ucapan orang.

4.    Kritik internal

Terkadang, mengkritik diri sendiri memang dibutuhkan untuk menyadarkan seseorang akan perbuatan yang telah dilakukan. Kritik terhadap diri sendiri sering berfungsi menjadi regulator atau rambu-rambu dalam bertindak dan berperilaku agar keberadaan kita diterima oleh masyarakat dan dapat beradaptasi dengan baik.

D.   Merubah Konsep Diri

Seringkali diri kita sendirilah yang menyebabkan persoalan bertambah rumit dengan berpikir yang tidak-tidak terhadap suatu keadaan atau terhadap diri kita sendiri. Namun, dengan sifatnya yang dinamis, konsep diri dapat mengalami perubahan ke arah yang lebih positif. Langkah-langkah yang perlu diambil untuk memiliki konsep diri yang positif :

1.    Bersikap obyektif dalam mengenali diri sendiri

Jangan abaikan pengalaman positif atau pun keberhasilan sekecil apapun yang pernah dicapai. Lihatlah talenta, bakat dan potensi diri dan carilah cara dan kesempatan untuk mengembangkannya. Janganlah terlalu berharap bahwa Anda dapat membahagiakan semua orang atau melakukan segala sesuatu sekaligus. You can’t be all things to all people, you can’t do all things at once, you just do the best you could in every way….

2.    Hargailah diri sendiri

Tidak ada orang lain yang lebih menghargai diri kita selain diri sendiri. Jikalau kita tidak bisa menghargai diri sendiri, tidak dapat melihat kebaikan yang ada pada diri sendiri, tidak mampu memandang hal-hal baik dan positif terhadap diri, bagaimana kita bisa menghargai orang lain dan melihat hal-hal baik yang ada dalam diri orang lain secara positif? Jika kita tidak bisa menghargai orang lain, bagaimana orang lain bisa menghargai diri kita ?

3.    Jangan memusuhi diri sendiri

Peperangan terbesar dan paling melelahkan adalah peperangan yang terjadi dalam diri sendiri. Sikap menyalahkan diri sendiri secara berlebihan merupakan pertanda bahwa ada permusuhan dan peperangan antara harapan ideal dengan kenyataan diri sejati (real self). Akibatnya, akan timbul kelelahan mental dan rasa frustrasi yang dalam serta makin lemah dan negatif konsep dirinya.

4.    Berpikir positif dan rasional

We are what we think. All that we are arises with our thoughts. With our thoughts, we make the world. Jadi, semua itu banyak tergantung pada cara kita memandang segala sesuatu, baik itu persoalan maupun terhadap seseorang. Jadi, kendalikan pikiran kita jika pikiran itu mulai menyesatkan jiwa dan raga.

DENVER II

HALALAN TOYYIBAH


Web Hosting