LAPORAN PENDAHULUAN
I. Kasus (Masalah Utama)
Perilaku mencederai diri (suicide)
II. Proses Terjadinya Masalah
Pengertian
Berbagai istilah untuk menguraikan mencederakan diri antara lain: aniaya diri, agresi yang diarahkan pada diri sendiri, membahayakan diri, cedera yang membebani diri, dan mutilasi diri.
Cedera diri didefinisikan suatu tindakan membahayakan diri sendiri yang dilakukan dengan sengaja tanpa bantuan orang lain, dan cedera tersebut cukup parah untuk melukai tubuh. Bentuk umum perilaku pencederaan diri termasuk melukai dan membakar kulit, membenturkan kepala atau anggota tubuh, melukai tubuhnya sedikit-demi sedikit, dan menggigit jarinya.
Perilaku destruktif-diri yaitu setiap aktifitas yang jika tidak dicegah dapat mengarah kepada kematian. Aktifitas ini dapat diklasifikasikan sebagai langsung atau tidak langsung.
Perilaku destruktif-diri langsung mencakup setiap bentuk aktivitas bunuh diri, tujuannya adalah kematian dan individu menyadari hal tersebut hasil yang diinginkan.
Perilaku destruktif-diri tak langsung termasuk tipe aktivitas yang merusak kesejahteraan fisik indivisudan adapt mengarah pada kematian. Individu tersebut tidak menyadari tentang potensial terjadi kematian akibat akibat perilakunya dan biasanya akan menyangkal apabila dikonfrontasi. Durasi dari perilakunya biasanya lebih lama dari pada perilau bunuh diri. Perilaku destruktif-diri tak langsung meliputi: 1) Merokok, 2) Mengebut, Berjudi, 3) Tindakan kriminal, 4) Terlibat dalam tindakan rekreasi berisiko tinggi, 5) Penyalahgunaan zat, 6) Perilaku yang menyimpang secara sosial, 7) Perilaku yang menimbulkan stress, 8) Gangguan makan, 9) Ketidakpatuhan pada tindakan medik.
Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri kehidupan.
Beck, Rawlins, dan Williams (1984) mengemukakan bahwa individu berharapan. Rentang harapan – putus harapan merupakan rentang adaptif dan maladaptif.
a. Ketidakberdayaan, keputuasaan, apatis. Individu yang tidak berhasil memecahkan masalah akan meninggalkan masalah, karena merasa tidak mampu, seolah-olah koping yang biasa bermain sudah tidak bermanfaat lagi. Harga diri rendah, apatis dan tidak mampu mengembangkan koping yang baru serta yakin tidak ada yang membantu.
b. Kehilangan, ragu-ragu. Individu yang mempunyai cita-cita terlalu tinggi dan tidak realistis akan merasa gagal dam kecewa jika cita-citanya tidak tercapai. Demikian pula jika individu kehilangan sesuatu yang sidah dimiliki misalnya kehilangan pekerjaan dan kesehatan, perceraian, perpisahan. Individu akan merasa gagal , kecewa rendah diri dan berakhir dengan bunuh diri.
c. Depresi dapat dicetuskan oleh rasa bersalah atau kehilangan yang ditandai sengan kesedihan dan rendah diri. Individu berpikir tentang bunuh diri pada waktu depresi berat, namun tidak mempunyai tenaga untuk melakukannya. Biasanya bunuh diri terjadi pada saat individu keluar dari keadaan depresi berat.
d. Bunuh diri merupakan keputusan terakhir individu untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
Faktor Resiko Bunuh Diri
a. Psikososial dan Analitik
1. Keputusasaan
2. Ras kulit putih
3. Jenis kelamin laki-laki
4. Usia lebih muda
5. Hidup sendiri
b. Riwayat
1. Pernah mencoba bunuh diri
2. Riwayat keluarga tentang percobaan bunuh diri
3. Riwayat keluarga tentang penyalahgunaan zat
c. Diagnostik
1. Penyakit medik umum
2. Psikosis
3. Penyalahgunaan zat
Faktor resiko bunuh diri menurut Stuart dan Sundeen (1987), sebagai berikut:
| Faktor | Risiko tinggi | Risiko rendah |
| Umur
Jenis kelamin Status kawin Jabatan Pengangguran Penyakit fisik Gsngguan mental Pemakaian obat dan alkohol |
45 tahun dan remaja
Laki-laki Cerai, pisah, duda/janda Profesional Pekerja Kronk, terminal Depresi, halusinasi Ketergantungan |
25 – 45 tahun dan <12 tahun
Perempuan Kawin Pekerjaan kasar Pekerjan Tidak ada yang serius Gangguan kepribadian Tidak |
Penyebab Bunuh Diri Pada Anak:
- Pelarian dari penganiayaan atau pemerkosaan
- Situasi keluarga yang kacau
- Perasaan tidak disayang atau selalu dikritik
- Takut atau dihina disekolah
- Kehilangan orang yang dicintai
- Dihukum orang lain
Penyebab Bunuh Diri Pada Remaja:
- Hubungan interpersonal yang tidak bermakna
- Sulit mempertahankan hubungan interpersonal
- Pelarian dari penganiayaan fisik atau pemerkosaan
- Perasaan tidak dimengerti orang lain
- Kehilangan orang yang dicintai
- Keadaan fisik
- Masalah dengan orang tua
- Masalah seksual
- Depresi
Penyebab Bunuh Diri Pada Mahasiswa:
- Self ideal terlalu tinggi
- Cemas akan tugas akademik yang banyak
- Kegagalan akademik berarti kehilangan penghargaan dan kasih sayang orangtua
- Kompetisi untuk sukses
Penyebab Bunuh Diri pada Usia Lanjut:
- Perubahan dari status mandiri ke tergantung
- Penyakit yang menurunkan kemampuan berfungsi
- Perasaan tidak berarti dimasyarakat
- Kesepian dan isolasi sosial
- Kehilangan ganda (seperti pekerjaan, kesehatan, pasangan)
- Sumber hidup berkurang
Faktor predisposisi :
Diagnosa psikiatri, Personality traits, Psychosocial mileu, Riwayat keluarga, Faktor biokimia
Pengkajian
a. Pengkajian Lingkungan Upaya Bunuh Diri
1. Presipitasi kehidupan yang menghina/menyakitkan
2. Tindakan persiapan metoda yang dibuituhkan, mengatur rencana, membicarakn tentang bunuh diri, memberiakn milik berharga sebagai hadiah, catatan untuk bunuh diri.
3. Penggunaan cara kekerasan atau obat/racun yang lebih mematika
4. Pemahaman letalitas dari metode yang dipilih
5. Kewaspadaan yang dilakukan agar tidak diketahui
b. Petunjuk Gejala
1. Keputusasaan
2. Celaan terhadap diri sendiri, perasaan gagal dan tidak berharga
3. Alam pearsaan depresi
4. Agitasi dan gelisah
5. Insomnia yang menetap
6. Penurunan berat badan
7. Berbicara lamban, keletihan, menarik diri dari lingkungan sosial
c. Penyakit Psikiatrik
1. Upaya bunuh diri sebelumnya
2. Kelainan afektif
3. Alkoholisme dan atau penyalahgunaan obat
4. Kelainan tindakan dan depresi pada remaja
5. Demensia dini dan status kekacauan mental pada lansia
6. Kombinasi dari kondisi diatas
d. Riwayat Psikososial
1. Barau berpisah, bercerai atau kehilangan
2. Hidup sendiri
3. Tidak bekerja, perubahan atau kehilangan pekerjaan yang baru dialami
4. Stres kehidupan multipel (pindah, kehilangan, putus hubungan yang berarti, masalah sekolah)
5. Penyakit medik kronik
6. Minum yang berlebihan dan penyalahgunaan zat
e. Faktor-Faktor Kepribadian
1. Impulsif, agresif, rasa bermusuhan
2. Kekakuan kognitif dan negatif
3. Keputusasaan
4. Harga diri rendah
5. Batasan atau gangguan kepribadian antisosial
6. Riwayat Keluarga
7. Riwayat keluarga perilaku bunuh diri
8. Riwayat kelaurga gangguan afektif, alkoholisme atau keduanya
Prinsip tindakan keperawatan pada klien dengan masalah utama mencederai diri adalah:
a. Perlindungan klien
b. Contracting for safety
c. Meningkatkan harga diri
d. Pengaturan emosi dan perilaku
e. Menggerakkan dukungan sosial
f. Pendidikan pada klien
g. Pencegahan bunuh diri
III. Pohon Masalah
IV. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin ditemukan perilaku destruktif-diri atau bunuh diri
- Dorongan kuat untuk bunuh diri berhubungan dengan alam perasaan depresi
- Potensial untuk bunuh diri berhubungan dengan
a. ketidakmampuan menangani stres, perasaan bersalah
b. keadaan krisis yang tiba-tiba (dirumah, komunitas)
- Koping yang tidak efektif berhubungan dengan keinginan bunuh diri sebagai pemecahan masalah
- Isolasi sosial berhubungan dengan usia lanjut atau fungsi tubuh yan menurun
- Gangguan konsep diri perasan tidak berharga berhubungan dengan kegagalan (sekolah, hubungan interpersonal).
- Risiko terhadap mutilasi diri
- Violence, risk for self-directed
- Risiko terhadap amuk: diarahkan pada diri
- Ketidakpatuhan
V. Rencana Tindakan Keperawatan
Diagnosa keperawatan:
Risiko amuk terhadap diri sendiri
Tujuan jangka panjang:
Klien tidak akan membahayakan dirinya sendiri secara fisik.
Tujuan jangka pendek:
1) Klien tidak akan melakukan kativitas yang mencederakan dirinya
Intervensi:
a. Observasi dengna ketat
b. Pindahkan benda yang berbahaya
c. Siapkan lingkungan yang aman
d. Berikan kebutuhan fisiologik dasar
e. Kontrak untuk keamanan jika tepat
f. Pantau pengobatan
2) Pasien kan mengidentifikasi aspek-aspek positif yang ada pada dirinya
Intervensi:
a. Identifikasi kekuatan-kekuatan pasien
b. Ajak klien untuk berperan serta dalam aktivitas yang disukai dan dapat dilakukannya
c. Dukung kebersihan diri dan keinginan untuk berhias
d. Tingkatkan keinginan untuk berhias
e. Tingkatkan hubungan interpersonal yang ketat
3) Pasien akan mengimplementasikan dua respon protektif-diri yang adaptif
Intervensi:
a. Permudah kesadaran, penerimaan dan ekspresi perasaan
b. Bantu pasien mengenal mekanisme koping yang tidak sehat
c. Identifikasi alternatif cara koping
d. Beri imbalan untuk perilaku koping yang sehat.
4) Pasien akan mengidentifikasi dua sumber dukungan sosial yang bermanfaat.
Intervensi:
a. Bantu orang terdekat untuk berkomunikasi secara konstruktif dengan klien.
b. Tingkatkan hubungan keluarga yang sehat.
c. Identifikasi sumber komunitas yang relevan.
d. Prakarsai rujukan untuk untuk menggunakan sumber komunitas.
5) Klien akan menguraikan rencana pengobatan dan rasionalnya.
Intervensi:
a. Libatkan pasien dan orang terdekat dalam perencanaan asuhan.
b. Jelaskan karakteristik dari kebutuhan pelayanan kesehatan yang telah diidentifikasi, diagnosis medik, dan rekomendasi tindakan dan medikasi.
c. Dapatkan respon terhadap terhadap rencana asuhan keperawatan.
d. Modifikasi rencana berdasarkan umpan balik pasien.
Diagnosa keperawatan
Koping individu tidak efektif berhubungan dengan keinginan bunuh diri sebagai pemecahan masalah
Tujuan Jangka Panjang
Klien menggunakan koping konstruktif dalam pemecahan masalah.
Tujuan Jangka Pendek:
1) Klien dapat mengungkapkan perasaannya
2) Klien belajar pendekatan pemecahan masalah
3) Klien menggunakan koping yang konstruktif
Intervensi:
a) Dengarkan dengan penuh perhatian dan serius pada semua pembicaraan tentang bunuh diri
b) Jangan bicara diluar bunuh diri
c) Pakai pendekatan pemecahan masalah untuk memecahkan keinginan bunuh diri:
d) Dorong klien meneliti alasan untuk hidup dan untuk mati
e) Dorong klien menguraikan tujuan yang ingin dicapai
f) Mengingatkan bahwa bunuh diri hanya satu dari banyak alternatif
g) Diskusikan kemungkinan akibat dari bunuh diri
h) Diskusikan kemungkinan hasil dari alternatif lain
i) Kuatkan koping klien yang sehat
j) Bantu klien mengenali koping yang maladaptif
k) Identifikasi alternatif koping yang lain.
l) Beri pujian atau pengakuan atas perilaku koping yang sehat.
Diagnosa Keperawatan
Gangguan konsep diri berhubungan dengan kegagalan
Tujuan jangka panjang
Klien dapat menerima dirinya dan mempunyai harga diri
Tujuan jangka pendek
1) Mengungkapkan perasaannya
2) Mengidentifikasi hal positif dari dirinya
3) Mendemonstrasikan kemampuannya
Intervensi:
a) Terima klien seadanya
b) Perlihatkan sikap yang memperhatikan
c) Dorong untuk mengungkapkan perasaan
d) Tekankan dan refleksikan hal positif yang dimiliki (pekerjaan, keluarga, hasil yang dicapai)
e) Dorong untuk melakukan pekerjaan yang disukai dan dapat ia lakukan
f) Beri pujian pada pencapaian dan hindari tindakan perilaku yang negatif.
Semarang, Nopember 2010
Pembimbing Praktikan,
___________________ Arifin Dwi Atmaja, S,Kep
DAFTAR PUSTAKA
1. Keliat, Budi Anna (1991) Tingkah Laku Bunuh Diri, cetakan I, Jakarta: Arcan
2. Stuart and Laraia (2001) Principle and Practice of Psychiatric Nursing, seventh edition, Mosby, A Harcourt Health Science Company.
3. Stuart, Gail Wiscarz (1998) Buku saku Keperawatan Jiwa, alih bahasa, Achir Yani S. Hamid, edisi-3, Jakarta:EGC
Filed under: Laporan Pendahuluan Ditandai: | JIWA





Terima kasih atas uraian akademisnya, semoga memberi manfaat bagi banyak orang.
Ada hal yang perlu ditelusuri, apa yang membuat tumbuhnya potensi destruktif ? Bagaimana kita melakukan deteksi dini bahwa pada sesorang tersimpan potensi tersebut ?
Realitas hidup mengajar pada kita senang-tidak senang, bahagia-sedih, baik-buruk akan selalu datang sepanjang silih berganti siang dan malam. Itu semua akan mewarnai hidup seseorang.
Ada keadaan dimana seorang manusia ‘tidak bisa bicara’ untuk menyampaikan ‘kepedihan hatinya’ sehingga akhirnya terjadi akumulasi dan membangun potensi destruktif.
Saya sedang me-riset ‘metode gerak-diam’ tanpa harus bicara untuk men-’detok racun psikologis’ yang membebani sesorang.
Untuk selanjutnya silahkan lakukan treatment psikologi.
Terima kasih. (Semoga bermanfaat; sangat benar ‘setiap penyakit ada obatnya’. Masalahnya apa, bagaimana, dan dimana obat tersebut !!!)