• MEDIA INFORMASI DAN KOMUNIKASI KEPERAWATAN

    Assalamu' alaikum Wr Wb Salam hangat dari Saya. Suatu kebahagiaan yang tiada terkira, satu KeAgungan dari Sang Pencipta ALLAH SWT telah diperlihatkan kembali. Blog ini satu bukti KeAgungan-Nya, melalui tangan dan pikiran saya Insya Allah dengan ijin-Nya saya mencoba memberikan informasi seputar dunia keperawatan. Saya juga mohon masukan dan kritik yang membangun guna mengembangkan kreatifitas saya dan perkembangan ilmu keperawatan pada umumnya. Amien Wassalamu' alaikum Wr Wb.
  • Kategori

  • Top Clicks

  • Top Posts

  • Pengunjung

    • 504,381 Orang
  • 5 Kiriman Teratas

  • @Arifin2Atmaja

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Bergabunglah dengan 14 pengikut lainnya

  • Top Rated

Anak – Anak Indonesia Tersenyumlah


Pengantar

Mungkin berjuta anak sampai saat ini masih belum bisa tersenyum dengan gembira.

Mengapa?

Anak CeriaKarena begitu banyak dari mereka dalam usianya yang masih sangat belia, sudah harus menanggung beban begitu berat, baik fisik maupun mental, yang menghambat proses tumbuh kembang mereka secara optimal.

Di antara mereka adalah anak-anak yang sangat kurang memperoleh perhatian atau pengawasan dari orangtuanya, atau bahkan hidup tanpa keluarga sama sekali.

Ini dapat kita jumpai pada anak-anak yang hidup di jalanan, tidur di pasar, di emperan toko atau di stasiun kereta api secara menggelandang dengan mengais rejeki melalui aktivitas kehidupan di sekitarnya. Kerasnya hidup yang harus mereka jalani kadang-kadang terpaksa menyeret mereka untuk melakukan berbagai tindak kriminal, sehingga pada usianya yang amat dini mereka sudah harus berurusan dengan aparat penegak hukum.

Tak jarang kemudian mereka juga harus meringkuk di balik jeruji besi tembok penjara tanpa perlindungan yang semestinya dan kemudian memperoleh perlakuan sewenang-wenang bagaikan narapidana dewasa yang lain.

Kondisi krisis ekonomi saat ini, juga telah memaksa jutaan anak-anak di kota maupun di desa terjun ikut bekerja guna memperoleh tambahan penghasilan. Apakah itu sebagai buruh anak di bidang pertanian dan perikanan di desa, atau sebagai buruh anak di pabrik-pabrik dengan kondisi kerja yang sangat memprihatinkan.

Di sisi lain masih banyak anak-anak yang begitu lemah dan tak berdaya, namun justru karena kelemahannya itulah lalu mereka memperoleh berbagai perlakuan sewenang-wenang dari orang-orang di sekitarnya.

Hanya karena keberadaannya sebagai anak-anak, lalu seolah mereka boleh diperlakukan apa saja oleh orang-orang dewasa. Apakah itu oleh orangtua kandungnya sendiri, orangtua tiri, paman, bibi, kakek, nenek, guru, majikan atau lembaga dan pihak-pihak lain yang seharusnya justru mengayominya.

Ironis sekali, bukan?

Kita dapat melihat beberapa data lama berikut ini :

Ÿ      Anak yang tidak memiliki akte kelahiran berjumlah 45-70% per propinsi atau sekitar 50 juta anak (Unicef, LPUI dan Plan International, dalam laporan KHA 2000)

Ÿ      Anak yang mengalami putus sekolah berjumlah 11,7 juta anak.

Ÿ      Anak yang bekerja dalam pekerjaan terburuk (usia 10-17 tahun) pada tahun 1999 berjumlah 4,8 juta dan berkurang menjadi 3,9 juta pada tahun 2000.

Ÿ   Anak yang mengalami eksploitasi dan perlakuan salah lainnya (anak jalanan) yang tersebar di 12 kota besar sebanyak 39.861 anak.

Ÿ      Anak yang mengalami tindak kekerasan sejumlah 871 anak, 80% diantaranya di bawah usia 15 tahun (Laporan Komnas PA 2000)

Ÿ      Anak yang diperdagangkan untuk tujuan seksual komersil (± 30% berusia 18 tahun ke bawah) dari 40.000-70.000 perempuan yang dilacurkan dari tahun 1997-2000 (Depsos, 2000)

Mereka-mereka inilah yang sampai saat ini belum bisa tersenyum dengan ceria.

Karena berjuta anak dari mereka masih mengalami berbagai tindakan penyia-nyiaan, eksploitasi dan penyalahgunaan yang sangat bertentangan dengan hak asasi mereka sebagai manusia.

Sementara kita tahu, bahwa Konvensi Hak Anak yang telah ditetapkan oleh PBB sebagai standar universal bagi hak-hak anak, seharusnya berfungsi untuk melindungi mereka dari berbagai tindakan salah tersebut. Sebanyak lebih dari 180 negara di dunia telah meratifikasi isi Konvensi tersebut pada tahun 1990.

Namun, apakah instrumen pengikat secara politis dan yuridis yang implikasi dan segala konsekwensinya ada pada kita semua itu betul-betul telah kita terapkan dalam realita kehidupan sehari-hari?

Tampaknya itu semua masih jauh dari kenyataan.

Berbagai tindak kekerasan, penelantaran dan eksploitasi masih saja terus dialami oleh bocah-bocah cilik tunas harapan bangsa di bumi pertiwi tercinta ini.

Kasus semacam Arie Hanggara (1984), Tata (November 1998), Rani (Desember 1999), Aprihartini (Februari 2000), Toni (2001), Roni (2002), sampai kepada kasus Anggi, Ismi, Raju dll (2006) masih juga menghiasi berbagai halaman surat kabar yang membuat bulu roma kita berdiri.

Begitu pula penderitaan psikologis akibat berbagai sikap dan tindakan yang sewenang-wenang terhadap anak, membuat mereka menjadi anak-anak yang bermasalah sehingga mengganggu proses tumbuh kembang mereka secara sehat.

Di dalam masyarakat seolah tumbuh anggapan bahwa anak adalah komunitas kelas bawah. Mereka adalah pribadi-pribadi kecil dan lemah yang sepenuhnya berada di bawah kendali kekuasaan orang dewasa, sehingga berakibat orangtua pun merasa berhak melakukan apa saja terhadap anak.

Pengertian sempit ini terus berkembang sehingga banyak diajarkan baik di rumah maupun di sekolah, bahwa anak-anak harus menurut sepenuhnya kepada orangtua, guru atau orang dewasa yang lain. Mereka sama sekali tidak boleh membantah, mengeritik, apalagi melawan, tanpa adanya penjelasan secara rinci dalam situasi bagaimana hal itu seharusnya dilakukan.

Pandangan demikian akhirnya berkembang dan sering membuka peluang terhadap dilakukannya berbagai penindasan dan perlakuan salah terhadap anak karena dianggap sebagai suatu hal yang wajar. Kurangnya respon masyarakat terhadap berbagai tindak kekerasan oleh orang dewasa ini, apalagi bila pelakunya adalah orangtua sendiri atau masih mempunyai hubungan keluarga dengan sang anak, juga sering disebabkan karena masalah tersebut dianggap sebagai masalah intern keluarga.

Inilah realita yang terjadi di sekeliling kita.

Tampaknya isi dan makna dari Konvensi Hak Anak masih belum tersosialisasi secara luas kepada masyarakat, sehingga akhirnya masyarakat menjadi kurang peka dan kurang memahami fenomena yang ada.

Untuk itu semua pihak kiranya perlu berusaha agar makna dari Konvensi Hak Anak tersebut dapat tersebar secara lebih luas, sebagaimana tertera dalam pasal 42 dari Konvensi tersebut, yaitu bahwa Negara Peserta berupaya agar prinsip-prinsip dan ketentuan Konvensi ini diketahui secara luas oleh orang dewasa dan juga anak-anak melalui cara yang tepat dan aktif.

Hak Anak

Asik Ya dg Tersenyum.

Asik Ya dg Tersenyum.

 

Menurut Konvensi Hak Anak yang diadopsi oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1989, dimana Indonesia juga telah meratifikasinya melalui Kepres No. 39 / Tahun 1990, setiap anak tanpa memandang ras, suku bangsa, jenis kelamin, asal usul keturunan, agama maupun bahasa mempunyai hak yang meliputi empat bidang hak, yaitu :

  • Hak Untuk Hidup

Anak-anak harus mempunyai akses pada pelayanan kesehatan dan dapat menikmati standar hidup yang layak, termasuk cukup makanan, air bersih dan tempat tinggal yang aman. Anak-anak juga mempunyai hak untuk memperoleh nama dan kewarganegaraan.

  • Hak Untuk Tumbuh dan Berkembang

Anak-anak berhak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensinya semaksimal mungkin. Mereka berhak memperoleh pendidikan (formal dan non formal) yang memadai. Anak-anak juga diberi kesempatan untuk bermain, berekreasi dan beristirahat.

  • Hak Untuk Memperoleh Perlindungan

Anak-anak harus dilindungi dari eksploitasi ekonomi dan seksual, kekerasan fisik atau mental, penangkapan atau penahanan yang sewenang-wenang, dan segala bentuk diskriminasi. Anak-anak yang tidak mempunyai orangtua dan anak-anak pengungsi juga berhak mendapat perlindungan.

  • Hak Untuk Berpartisipasi

Anak-anak harus diberi kesempatan untuk menyuarakan pandangan dan ide-idenya terutama tentang berbagai persoalan yang berkaitan dengan anak.

Penerapannya di Indonesia

Di Indonesia masih banyak anak yang mengalami kekerasan dan penindasan haknya. Hal ini terjadi karena terkadang orang dewasa menganggap bahwa anak merupakan ‘properti’ milik mereka. Di lain pihak, anak terkadang memiliki kesulitan untuk mengungkapkan perasaannya sehingga aspirasinya juga tidak tersalurkan. Bentuk penindasan itu misalnya pada Hak Untuk Hidup, banyak anak di Indonesia yang tidak memiliki tempat tinggal yang tetap, kebutuhan sandang dan pangan yang tidak terpenuhi dengan baik, tidak memiliki akte kelahiran, contohnya anak jalanan. Pada Hak Untuk Tumbuh dan Berkembang, banyak anak di Indonesia yang tidak memperoleh pendidikan yang layak bahkan harus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sehingga ia tidak lagi memiliki waktu untuk bermain dan berekreasi yang sebenarnya juga merupakan kebutuhannya. Sedangkan pelanggaran dalam pemenuhan Hak Untuk Memperoleh Perlindungan, misalnya anak yang dipaksa harus bekerja atau mengalami perkosaan. Dalam Hak Untuk Berpartisipasi, biasanya pelanggaran yang terjadi adalah anak tidak didengar aspirasinya, orangtua yang langsung menentukan segala sesuatunya terutama hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan anak.

Selain pelanggaran hak anak seperti yang dikemukakan di atas, banyak anak baik di Indonesia maupun di seluruh dunia yang mengalami tindakan kekerasan oleh orang dewasa yang biasanya dilakukan di dalam rumah tangga. Menurut data dari World Health Organization (WHO) bahwa penganiayaan anak telah menyengsarakan hidup 40 juta anak yang berusia antara 0 sampai dengan 14 tahun.

Beberapa jenis kekerasan yang dialami oleh anak di Indonesia antara lain :

Ÿ      Kekerasan fisik, seperti menampar, mencubit, memukul, menendang, menjewer, menginjak, dan sebagainya.

Ÿ      Kekerasan seksual, seperti mencium dengan paksa, mencolek, sodomi, oral seks, dan sebagainya.

Ÿ      Kekerasan emosional, seperti hinaan dan cercaan.

Kekerasan yang dilakukan terhadap anak ini akan berdampak negatif terhadap perkembangan jiwa anak, seperti adanya: :

Ÿ      Gangguan kecerdasan (kecemasan dan sulit konsentrasi)

Ÿ      Disorientasi seksual

Ÿ      Gangguan fisik, mental serta emosional

Ÿ      Tingkah laku meniru tindakan tersebut

Ÿ      Anak menjadi agresif

Ÿ      Kemarahan dan dendam, dan sebagainya.

Dengan adanya dampak psikologis dari pelanggaran dan tindak kekerasan terhadap anak seperti di atas, hendaknya kita dapat memahami bahwa pada dasarnya anak adalah suatu pribadi utuh yang tidak boleh diperlakukan begitu saja secara semena-mena, karena mereka mempunyai hak-hak khusus sebagai anak yang perlu senantiasa dilindungi.

Mereka adalah bagaikan kuntum bunga yang tengah merekah. Mereka butuh tanah yang subur dalam bentuk perlindungan dan kasih sayang yang hangat, agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

Untuk itu, adalah tugas kita bersama untuk menyediakan lahan yang subur tadi bagi proses tumbuh kembang mereka. Yaitu dengan cara mengerti hak-hak mereka sebagai anak, melindungi mereka dari berbagai tindakan eksploitasi dan penyalahgunaan yang merugikan.

Penutup

Berbagai tindak kekerasan, penelantaran dan eksploitasi masih saja terus dialami oleh bocah-bocah cilik tunas harapan bangsa di bumi pertiwi tercinta ini.

Tampaknya hal itu terjadi karena isi dan makna dari Konvensi Hak Anak maupun Undang-undang Perlindungan Anak masih belum tersosialisasi secara luas kepada masyarakat, sehingga akhirnya masyarakat menjadi kurang peka dan kurang memahami fenomena yang ada.

Untuk itu semua pihak kiranya perlu berusaha agar makna dari Konvensi Hak Anak tersebut dapat tersebar secara lebih luas, sebagaimana tertera dalam pasal 42 dari Konvensi tersebut, yaitu bahwa Negara Peserta berupaya agar prinsip-prinsip dan ketentuan Konvensi ini diketahui secara luas oleh orang dewasa dan juga anak-anak melalui cara yang tepat dan aktif.

Hanya dengan cara demikianlah, maka kita akan dapat melihat kembali anak-anak yang tersenyum dengan penuh kebahagiaan karena pada akhirnya mereka dapat memperoleh kembali kasih sayang dan perlindungan atas hak-haknya yang hakiki.

Marilah kita junjung tinggi hak-hak anak dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dengan tulus akhirnya kita dapat mengatakan : Anak-anak Indonesia, tersenyumlah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: