• MEDIA INFORMASI DAN KOMUNIKASI KEPERAWATAN

    Assalamu' alaikum Wr Wb Salam hangat dari Saya. Suatu kebahagiaan yang tiada terkira, satu KeAgungan dari Sang Pencipta ALLAH SWT telah diperlihatkan kembali. Blog ini satu bukti KeAgungan-Nya, melalui tangan dan pikiran saya Insya Allah dengan ijin-Nya saya mencoba memberikan informasi seputar dunia keperawatan. Saya juga mohon masukan dan kritik yang membangun guna mengembangkan kreatifitas saya dan perkembangan ilmu keperawatan pada umumnya. Amien Wassalamu' alaikum Wr Wb.
  • Kategori

  • Top Clicks

    • Tidak ada
  • Top Posts

  • Pengunjung

    • 532,028 Orang
  • 5 Kiriman Teratas

  • @Arifin2Atmaja

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Bergabunglah dengan 14 pengikut lainnya

  • Top Rating

ASKEP ANAK DENGAN PNEUMONIA


PENGERTIAN PNEUMONIA

  1. ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) merupakan padanan istilah : Acute Respiratory Infections (ARI).
  2. ISPA mengandung 3 unsur, yaitu :
    1. Infeksi.
    2. Saluran pernafasan.
    3. Akut.

Batasan-batasan masing-masing unsur :

a. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak, sehingga menimbulkan gejala penyakit.

b. Saluran pernafasan adalah organ yang mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura à ISPS à secara anatomis mencakup saluran pernafasan bagian atas, saluran pernafasan bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksa saluran pernafasan.

c. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari (batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun ISPA dapat lebih 14 hari).

Pneumonia :

  1. Pneumonia pada anak seringkali bersamaan terjadinya proses infeksi akut pada bronchus dan disebut bronchopneumonia.
  2. Terjadinya pneumonia pada anak seringkali bersamaan dengan terjadinya proses infeksi akut pada bronchus (bronchopneumonia). Dalam pelaksanaan program P2 ISPA semua bentuk pneumonia (baik pneumonia maupun bronchopneumonia) disebut Pneumonia.

Pneumonia adalah merupakan infeksi akut yang secara anatomi mengenai lobus paru.

Pneumonia Berdasarkan Penyebab :

  1. Pneumonia bakteri.
  2. Pneumonia virus.
  3. Pneumonia Jamur.
  4. Pneumonia aspirasi.
  5. Pneumonia hipostatik.

Pneumonia berdasarkan anatomic :

  1. Pneumonia lobaris à radang paru-paru yang mengenai sebagian besar/seluruh lobus paru-paru.
  2. Pneumonia lobularis (bronchopneumonia) à radang pada paru-paru yang mengenai satu/beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrate.
  3. Pneumonia interstitialis (bronkhiolitis) à radang pada dinding alveoli (interstitium) dan peribronkhial dan jaringan interlobular.

Patofisiologi Bronkhopneumonia :

  1. Bronkhopneumonia lebih sering merupakan infeksi sekunder.
  2. Keadaan yang dapat menyebabkan bronchopneumonia adalah pertusis, morbili, penyakit lain yang disertai dengan infeksi saluran pernafasan atas, gizi buruk, paska bedah atau kondisi terminal.

Etiologi :

  1. Streptokokus.
  2. Stapilokokus.
  3. Pneumokokus.
  4. Hemovirus Influenza.
  5. Pseudomonas.
  6. Fungus.
  7. Basil colli.

Sehingga menimbulkan :

  1. Reaksi radang pada bronchus dan alveolus dan sekitarnya.
  2. Lumen bronkhiolus terisi eksudat dan sel epitel yang rusak.
  3. Dinding bronkhiolus yang rusak mengalami fibrosis dan pelebaran.
  4. Sebagian jaringan paru-paru mengalami etelektasis/kolaps alveoli, emfisema hal ini disebabkan karena menurunnya kapasitas fungsi paru dan penurunan produksi surfaktan.

Gejala Klinis :

  1. Biasanya didahului infeksi saluran pernafasan bagian atas. Suhu dapat naik secara mendadak (38 – 40 ºC), dapat disertai kejang (karena demam tinggi).
  2. Gejala khas :
    1. Sianosis pada mulut dan hidung.
    2. Sesak nafas, pernafasan cepat dan dangkal disertai pernafasan cuping hidung.
    3. Gelisah, cepat lelah.
  3. Batuk à mula-mula kering à produktif.
  4. Kadang-kadang muntah dan diare, anoreksia.
  5. Pemeriksaan laboratorium = lekositosis.
  6. Foto thorak = bercak infiltrate pada satu lobus/beberapa lobus.

Komplikasi :

Bila tidak ditangani secara tepat à

  1. Otitis media akut (OMA) à terjadi bila tidak diobati, maka sputum yang berlebihan akan masuk ke dalam tuba eustachius, sehingga menghalangi masuknya udara ke telinga tengah dan mengakibatkan hampa udara, kemudian gendang telinga akan tertarik ke dalam dan timbul efusi.
  2. Efusi pleura.
  3. Emfisema.
  4. Meningitis.
  5. Abses otak.
  6. Endokarditis.
  7. Osteomielitis.

Penatalaksanaan :

  1. Oksigen.
  2. Cairan, kalori dan elektrolit à glukosa 10 % : NaCl 0,9 % = 3 : 1 ditambah larutan KCl 10 mEq/500 ml cairan infuse.
  3. Obat-obatan :
    1. Antibiotika à berdasarkan etiologi.
    2. Kortikosteroid à bila banyak lender.

Prognosa : dengan pemberian antibiotic yang tepat, mortalitas dapat menurun.

ASUHAN KEPERAWATAN

  1. Pengkajian
    1. Riwayat Kesehatan :

1)      Adanya riwayat infeksi saluran pernafasan sebelumnya/batuk, pilek, takhipnea, demam.

2)      Anoreksia, sukar menelan, muntah.

3)      Riwayat penyakit yang berhubungan dengan imunitas, seperti ; morbili, pertusis, malnutrisi, imunosupresi.

4)      Anggota keluarga lain yang mengalami sakit saluran pernafasan.

5)      Batuk produktif, pernafasan cuping hidung, pernafasan cepat dan dangkal, gelisah, sianosis.

2. Pemeriksaan Fisik :

1)      Demam, takhipnea, sianosis, cuping hidung.

2)      Auskultasi paru à ronchi basah, stridor.

3)      Laboratorium à lekositosis, AGD abnormal, LED meningkat.

4)      Roentgen dada à abnormal (bercak konsolidasi yang tersebar pada kedua paru).

3. Faktor Psikososial/Perkembangan :

1)      Usia, tingkat perkembangan.

2)      Toleransi/kemampuan memahami tindakan.

3)      Koping.

4)      Pengalaman berpisah dengan keluarga/orang tua.

5)      Pengalaman infeksi saluran pernafasan sebelumnya.

4. Pengetahuan Keluarga, Psikososial :

1)      Tingkat pengetahuan keluarga tentang penyakit bronchopneumonia.

2)      Pengalaman keluarga dalam menangani penyakit saluran pernafasan.

3)      Kesiapan/kemauan keluarga untuk belajar merawat anaknya.

4)      Koping keluarga.

5)      Tingkat kecemasan.

2. Diagnosa Keperawatan

    1. Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan peradangan, penumpukan secret.
    2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane kapiler alveolus.
    3. Berkurangnya volume cairan berhubungan dengan intake oral tidak adekuat, demam, takipnea.
    4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan menurunnya kadar oksigen darah.
    5. Perubahan rasa nyaman berhubungan dengan demam, dispnea, nyeri dada.
    6. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi.
    7. Kurangnya pengetahuan orang tua tentang perawatan anak setelah pulang dari rumah sakit.
    8. Kecemasan berhubungan dengan dampak hospitalisasi.
  1. Intervensi

a.   Dx. : Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan peradangan, penumpukan secret.

Tujuan : Jalan nafas efektif, ventilasi paru adekuat dan tidak ada penumpukan secret.

Rencana tindakan :

1)      Monitor status respiratori setiap 2 jam, kaji adanya peningkatan status pernafasan dan bunyi nafas abnormal.

2)      Lakukan perkusi, vibrasi dan postural drainage setiap 4 – 6 jam.

3)      Beri therapy oksigen sesuai program.

4)      Bantu membatukkan sekresi/pengisapan lender.

5)      Beri posisi yang nyaman yang memudahkan pasien bernafas.

6)      Ciptakan lingkungan yang nyaman sehingga pasien dapat tidur tenang.

7)      Monitor analisa gas darah untuk mengkaji status pernafasan.

8)      Beri minum yang cukup.

9)      Sediakan sputum untuk kultur/test sensitifitas.

10)  Kelolaa pemberian antibiotic dan obat lain sesuai program.

b.   Dx. : Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane kapiler alveolus.

Tujuan : Pasien memperlihatkan perbaikan ventilasi, pertukaran gas secara optimal dan oksigenasi jaringan secara adekuat.

Rencana Tindakan :

1)      Observasi tingkat kesadaran, status pernafasan, tanda-tanda sianosis setiap 2 jam.

2)      Beri posisi fowler/semi fowler.

3)      Beri oksigen sesuai program.

4)      Monitor analisa gas darah.

5)      Ciptakan lingkungan yang tenang dan kenyamanan pasien.

6)      Cegah terjadinya kelelahan pada pasien.

c. Dx. : Berkurangnya volume cairan berhubungan dengan intake oral tidak adekuat, demam, takipnea.

Tujuan : Pasien akan mempertahankan cairan tubuh yang normal.

Rencana Tindakan :

1)      Catat intake dan out put cairan. Anjurkan ibu untuk tetaap memberi cairan peroral à hindari milk yang kental/minum yang dingin à merangsang batuk.

2)      Monitor keseimbangan cairan à membrane mukosa, turgor kulit, nadi cepat, kesadaran menurun, tanda-tyanda vital.

3)      Pertahankan keakuratan tetesan infuse sesuai program.

4)      Lakukan oral hygiene.

d. Dx. : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan menurunnya kadar oksigen darah.

Tujuan : Pasien dapat melakukan aktivitas sesuai kondisi.

Rencana Tindakan :

1)      Kaji toleransi fisik pasien.

2)      Bantu pasien dalam aktifitas dari kegiatan sehari-hari.

3)      Sediakan permainan yang sesuai usia pasien dengan aktivitas yang tidak mengeluarkan energi banyak à sesuaikan aktifitas dengan kondisinya.

4)      Beri O2 sesuai program.

5)      Beri pemenuhan kebutuhan energi.

e. Dx. : Perubahan rasa nyaman berhubungan dengan demam, dispnea, nyeri dada.

Tujuan : Pasien akan memperlihatkan sesak dan keluhan nyeri berkurang, dapat batuk efektif dan suhu normal.

Rencana Tindakan :

1)      Cek suhu setiap 4 jam, jika suhu naik beri kompres dingin.

2)      Kelola pemberian antipiretik dan anlgesik serta antibiotic sesuai program.

3)      Bantu pasien pada posisi yang nyaman baginya.

4)      Bantu menekan dada pakai bantal saat batuk.

5)      Usahakan pasien dapat istirahat/tidur yang cukup.

f. Dx. : Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi.

Tujuan : Suhu tubuh dalam batas normal.

Rencana Tindakan :

1)      Observasi tanda-tanda vital setiap 2 jam.

2)      Beri kompres dingin.

3)      Kelola pemberian antipiretik dan antibiotic.

4)      Beri minum peroral secara hati-hati, monitor keakuratan tetesan infuse.

g. Dx. : Kurangnya pengetahuan orang tua tentang perawatan anak setelah pulang dari rumah sakit.

Tujuan : Anak dapat beraktifitas secara normal dan orang tua tahu tahap-tahap yang harus diambil bila infeksi terjadi lagi.

Rencana Tindakan :

1)      Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang perawatan anak dengan bronchopneumonia.

2)      Bantu orang tua untuk mengembangkan rencana asuhan di rumah ; keseimbangan diit, istirahat dan aktifitas yang sesuai.

3)      Tekankan perlunya melindungi anak kontak dengan anak lain sampai dengan status RR kembali normal.

4)      Ajarkan pemberian antibiotic sesuai program.

5)      Ajarkan cara mendeteksi kambuhnya penyakit.

6)      Beritahu tempat yang harus dihubungi bila kambuh.

7)      Beri reinforcement untuk perilaku yang positif.

h. Dx. : Kecemasan berhubungan dengan dampak hospitalisasi.

Tujuan : Kecemasan teratasi.

Rencana Tindakan :

1)      Kaji tingkat kecemasan anak.

2)      Fasilitasi rasa aman dengan cara ibu berperan serta merawat anaknya.

3)      Dorong ibu untuk selalu mensupport anaknya dengan cara ibu selalu berada di dekat anaknya.

4)      Jelaskan dengan bahasa sederhana tentang tindakan yang dilakukan à tujuan, manfaat, bagaimana dia merasakannya.

5)      Beri reinforcement untuk perilaku yang positif.

  1. Implementasi

Prinsip implementasi :

  1. Observasi status pernafasan seperti bunyi nafas dan frekuensi setiap 2 jam, lakukan fisioterapi dada setiap 4 – 6 jam dan lakukan pengeluaran secret melalui batuk atau pengisapan, beri O2 sesuai program.
  2. Observasi status hidrasi untuk mengetahui keseimbangan intake dan out put.
  3. Monitor suhu tubuh.
  4. Tingkatkan istirahat pasien dan aktifitas disesuaikan dengan kondisi pasien.
  5. Perlu partisipasi orang tua dalam merawat anaknya di RS.
  6. Beri pengetahuan pada orang tua tentang bagaimana merawat anaknya dengan bronchopneumonia.
  1. Evaluasi.

Hasil evaluasi yang ingin dicaapai :

  1. Jalan nafas efektif, fungsi pernafasan baik.
  2. Analisa gas darah normal.
Iklan

DENVER II


Denver-II

ANTICIPATORY GUIDANCE


PETUNJUK ANTISIPASI

A. 6 bulan pertama
a. Menganjurkan orang tua untuk membuat jadwal dalam memenuhi kebutuhan bayi.
b. Membantu orang tua untuk memahami kebutuhan bayi terhadap stimulasi dari lingkungan.
c. Support kesenangan orang tua dalam melihat pertumbuhan dan perkembangan bayinya mis : respon tertawa.
d. Menyiapkan orang tua untuk kebutuhan keamanan bayi.
e. Menyiapkan orang tua untuk imunisasi bayi.
f. Menyiapkan orang tua untuk mulai memberi makanan padat pada bayi.

B. 6 bulan kedua
a. Menyiapkan orang tua akan adanya “Stranger Anxiety”.
b. Menganjurkan orang tua agar anak dekat kepadanya hindari perpisahan yang lama.
c. Membimbing orang tua agar menerapkan disiplin sehubungan dengan meningkatnya mobilitas bayi.
d. Menganjurkan orang tua menggunakan “Kontak Mata” dari pada hukuman badan sebagai suatu disiplin.

INDIKASI KESIAPAN ANAK DAN ORANG TUA UNTUK “TOILET TRAINING”
Kesiapan anak :
1. Fisik
a. Pengontrolan saraf volunter spinkterani dan uretra  usia 18 – 24 bulan.
b. Mampu untuk tetap kering (menahan BAK) selama 2 jam.
c. Perkembangan ketrampilan motorik kasar : duduk, jongkok, berjalan.
d. Perkembangan ketrampilan motorik halus : mampu membuka celana dan berpakaian.
2. Psikologis
a. Mengenai adanya dorongan untuk miksi dan defikasi.
b. Kemampuan berkomunikasi : verbal dan non verbal mengindikasikan dorongan untuk miksi atau defikasi.
c. Kemampuan kognitif : meniru dengan tepat tingkahlaku dan mengikuti pengarahan.
d. Mengekspresikan keinginan untuk menyenangkan orang tua.
e. Mampu duduk atau jongkok diatas toilet 5 – 10 menit tanpa cerewet atau turun.
f. Mengikuti tingkat kesiapan anak.
g. Keinginan untuk meluangkan waktu : perlu kesabaran dan pengertian.
h. Tidak ada stress keluarga atau perubahan seperti : perceraian, pindah rumah, mendapat adik baru atau akan berlibur.
i. Memberi pujian jika anak berhasil.

A. Sibling Rivalry
Keluarga mendapat bayi baru : dapat menimbulkan krisis bagi toddler. Toddler tidak membenci atau marah pada bayi, tetapi karena :
a. Perubahan merasa ada saingan.
b. Perhatian ibu terbagi.
c. Kebiasaan rutin menjadi berubah menyebabkan anak bertingkahlaku invantil
Perlu persiapan toddler untuk menerima kehadiran saudara kandungnya mulai  sejak bayi dalam kandungan.

B. Anticipatory Guidance
1. Usia 12 – 18 bulan
a. Menyiapkan orang tua untuk mengantisipasi adanya perubahan tingkah laku dari toddler.
b. Penyapihan secara bertahap.
c. Adanya jadwal waktu makan yang rutin.
d. Pencegahan bahaya kecelakaan yang potensial terjadi.
e. Perlunya ketentuan-ketentuan/peraturan/aturan disiplin dengan lembut dan cara-cara untuk mengatasi negatifistik dan tempertantrum.
f. Perlunya mainan baru untuk mengembangkan motorik, bahasa, pengetahuan dan ketrampilan social.
2. Usia 18 – 24 bulan
a. Menekankan pentingnya persahabatan sebaya dalam bermain.
b. Menekankan pentingnya persiapan anak untuk kehadiran bayi baru.
c. Mendiskusikan kesiapan fisik dan psikologis anak untuk toilet training.
d. Mendiskusikan berkembangnya rasa takut seperti pada kegelapan atau suara keras.
e. Menyiapkan orang tua akan adanya tanda-tanda regresi pada waktu anak mengalami stress.
3. Usia 24 – 36 bulan
a. Mendiskusikan kebutuhan anak untuk dilibatkan dalam kegiatan dengan cara meniru.
b. Mendiskusikan pendekatan yang dilakukan dalam toilet training dan sikap menghadapi keadaan-keadaan seperti mengompol atau BAB dicelana.
c. Menekankan keunikan dari proses berfikir toddler mis : melalui bahasa yang digunakan ketidakmampuan melihat kejadian dari perspektif yang lain.
d. Menekankan disiplin harus tetap berstruktur dengan benar dan nyata, ajukan alas an yang rasional, hindari kebingungan dan salah pengertian.

C. Prasekolah
Bimbingan terhadap orang tua selama usia prasekolah :
1. Usia 3 tahun
a. Menganjurkan orang tua untuk meningkatkan minat anak dalam hubungan yang luas.
b. Menekankan pentingnya batas-batas/peraturan-peraturan.
c. Mengantisipasi perubahan perilaku yang agresif (menurunkan ketegangan/ tension).
d. Menganjurkan orang tua untuk menawarkan kepada anaknya alternative-alternatif pilihan pada saat anak bimbang.
e. Perlunya perhatian ekstra.
2. Usia 4 tahun
a. Perilaku lebih agresif termasuk aktivitas motorik dan bahasa.
b. Menyiapkan meningkatnya rasa ingin tahu tentang seksual.
c. Menekankan pentingnya batas-batas yang realistic dari tingkah lakunya.
3. Usia 5 tahun
a. Menyiapkan anak memasuki lingkungan sekolah.
b. Meyakinkan bahwa usia tersebut merupakan periode tenang pada anak.

D. Usia Sekolah
Bimbingan pada orang tua pada usia sekolah.
1. Usia 6 tahun
a. Bantu orang tua untuk memahami kebutuhan mendorong anak berinteraksi dengan temannya.
b. Ajarkan pencegahan kecelakaan dan keamanan terutama naik sepeda.
c. Siapkan orang tua akan peningkatan inters keluar rumah.
d. Dorong orang tua untuk respek terhadap kebutuhan anak akan privacy dan menyiapkan kamar tidur yang berbeda.
2. Usia 7 – 10 tahun
a. Menekankan untuk mendorong kebutuhan akan kemandirian.
b. Interes beraktivitas di luar rumah.
c. Siapkan orang tua untuk perubahan pada wanita memasuki prapubertas.
3. Usia 11 – 12 tahun
a. Bantu orang tua untuk menyiapkan anak tentang perubahan tubuh saat pubertas.
b. Anak wanita mengalami pertumbuhan cepat.
c. Sex education yang adekuat dan informasi yang akurat.

PENCEGAHAN TERHADAP KECELAKAAN PADA ANAK

Kecelakaan merupakan kejadian yang dapat menyebabkan kematian pada anak.
Kepribadian adalah factor pendukung terjadinya kecelakaan.
Orang tua bertanggungjawab terhadap kebutuhan anak, menyadari karakteristik perilaku yang menimbulkan kecelakaan waspada terhadap factor-faktor lingkungan yang mengancam keamanan anak.
Factor-faktor Yang Menyebabkan Kecelakaan
Jenis kelamin biasanya lebih banyak pada laki-laki karena lebih aktif di rumah.
Usia pada kemampuan fisik dan kognitif,  semakin besar akan semakin tahu mana yang bahaya.
Lingkungan
Adanya penjaga atau pengasuh.
Cara Pencegahan :
a. Pemahaman tingkat perkembangan dan tingkahlaku anak.
b. Kualitas asuhan meningkat.
c. Lingkungan aman.

ANTICIPATORY GUIDANCE
(Memberitahukan/upaya bimbingan kepada orang tua tentang tahapan perkembangan sehingga orang tua sadar akan apa yang terjadi dan dapat memenuhi kebutuhan sesuai dengan usia anak).
Pencegahan Terhadap Kecelakaan ;
1. Masa Bayi
Jenis kecelakaan : Aspirasi benda, jatuh, luka baker, keracunan, kurang O2.
Pencegahan
a. Aspirasi : bedak, kancing, permen (hati-hati).
b. Kurang O2 : plastic, sarung bantal.
c. Jatuh : tempat tidur ditutup, pengaman (restraint), tidak pakai kursi tinggi.
d. Luka bakar : cek air mandi sebelum dipakai.
e. Keracunan : simpan bahan toxic dilemari.
2. Masa Toddler
Jenis kecelakaan :
a. Jatuh/luka akibat mengendarai sepeda.
b. Tenggelam.
c. Keracunan atau terbakar.
d. Tertabrak karena lari mengejar bola/balon.
e. Aspirasi dan asfiksia.
Pencegahan :
a. Awasi jika dekat sumber air.
b. Ajarkan berenang.
c. Simpan korek api, hati-hati terhadap kompor masak dan strika.
d. Tempatkan bahan kimia/toxic di lemari.
e. Jangan biarkan anak main tanpa pengawasan.
f. Cek air mandi sebelum dipakai.
g. Tempatkan barang-barang berbahaya ditempat yang aman.
h. Jangan biarkan kabel listrik menggantung  mudah ditarik.
i. Hindari makan ikan yang ada tulang dan makan permen yang keras.
j. Awasi pada saat memanjat, lari, lompat karena sense of balance.
3. Pra Sekolah
Kecelakaan terjadi karena anak kurang menyadari potensial bahaya : obyek panas, benda tajam, akibat naik sepeda misalnya main di jalan, lari mengambil bola/layangan, menyeberang jalan.

Pencegahan ada 2 cara ;
1. Mengontrol lingkungan.
2. Mendidik anak terhadap keamanan dan potensial bahaya.
a. Jauhkan korek api dari jangkauan.
b. Mengamankan tempat-tempat yang secara potensial dapat membahayakan anak.
c. Mendidik anak :
– Cara menyeberang jalan.
– Arti rambu-rambu lalulintas.
– Cara mengendarai sepeda yang aman  peran orang tua = perlu belajar mengontrol lingkungan.
4. Usia Sekolah
a. Anak sudah berpikir sebelum bertindak.
b. Aktif dalam kegiatan : mengendarai sepeda, mendaki gunung, berenang.
Perawat mengajarkan keamanan :
a. Aturan lalu-lintas bagi pengendara sepeda.
b. Aturan yang aman dalam berenang
c. Mengawasi pada saat anak menggunakan alat berbahaya : gergaji, alat listrik.
d. Mengajarkan agar tidak menggunakan alat yang bisa meledak/terbakar.
5. Remaja
 Penggunaan kendaraan bermotor bila jatuh dapat : fraktur, luka pada kepala.
 Kecelakaan karena olah raga.

a. Perlu petunjuk dalam penggunaan kendaraan bermotor sebelumnya ada negosiasi antara orang tua dengan remaja.
b. Menggunakan alat pengaman yang sesuai.
c. Melakukan latihan fisik yang sesuai sebelum melakukan olah raga.

CHILD ABUSE


PENDAHULUAN

Akhir-akhir ini banyak diberitakan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh orang tua atau pengasuh terhadap anaknya. Dari yang memukul anak, menyiram anak dengan air panas, hingga membakar anak. Ada juga berita ayah melakukan hubungan sexual dengan anak, atau kakek dengan anak atau kakak dengan adik, bahkan sampai hamil. Banyak alasan yang dikemukakan oleh orang tua maupun pengasuh, antara lain kesal karena anak tidak bisa diberi tahu, anak rewel terus, kesal pada suami, kesal pada majikan, dsb. Itu adalah fenomena child abuse yang terjadi di sekitar kita.
Perawat, terkadang merupakan orang yang pertama mengenali adanya child abuse di masayarakat. Perawat maternitas, perawat anak dan perawat keluarga hendaknya mengamati adanya tanda – tanda family abuse sehingga dapat mempersiapkan untuk menangani hal tersebut secara objektif. Hal ini penting agar korban kekerasan menjadi aman dan agar fungsi keluarga dapat berjalan dengan baik.

PENGERTIAN
Abuse1 didefinisikan sebagai tindakan mencederai oleh seseorang terhadap orang lain. Child abuse dapat menimbulkan akibat yang panjang, seorang anak yang pernah mengalami kekerasan, dapat menjadi orang tua yang memperlakukan anaknya dengan cara yang sama.

MACAM CHILD ABUSE
4 bentuk child abuse , yaitu: 2,3

  • Emotional Abuse– Perlakuan yang dilakukan oleh orang tua seperti menolak anak, meneror, mengabaikan anak, atau mengisolasi anak. Hal tersebut akan membuat anak merasa dirinya tidak dicintai, atau merasa buruk atau tidak bernilai. Hal ini akan menyebabkan kerusakan mental fisik, sosial, mental dan emosional anak.

Indikator fisik kelainan bicara, gangguan pertumbuhan fisik dan perkembangan.
Indikator perilaku – kelainan keiasaan (menghisap, mengigit, atau memukul-mukul)

  • Physical Abuse Cedera yang dialami oleh seorang anak bukan karena kecelakaan atau tindakan yang dapat menyebabkan cedera serius pada anak, atau dapat juga diartikan sebagai tindakan yang dilakukan oleh pengasuh sehingga mencederai anak. Biasanya berupa luka memar, luka bakar atau cedera di kepala atau lengan.

Gambar 1. Memar Abnormal

memar

Gambar 2. Luka Bakar

luka-bakar Gambar 3. Trauma Gigitan

gigitan

    Indikator fisik – luka memar, gigitan manusia, patah tulang, rambut yang tercabut, cakaran
    Indikator perilaku – waspada saat bertemu degan orang dewasa, berperilaku ekstrem seerti agresif atau menyendiri, takut pada orang tua, takut untuk pulang ke rumah, menipu, berbohong, mencuri.

    • Neglect – Kegagalan orang tua untuk memberikan kebutuhan yang sesuai bagi anak, seperti tidak memberikan rumah yang aman, makanan, pakaian, pengobatan, atau meninggalkan anak sendirian atau dengan seseorang yang tidak dapat merawatnya .

    Gambar 4. Neglect

    neglect

    Indikator fisik – kelaparan, kebersihan diri yang rendah, selalu mengantuk, kurangnya perhatian, masalah kesehatan yang tidak ditangani.
    Indikator kebiasaan ¬- Meminta atau mencuri makanan, sering tidur, kurangnya perhatian pada masalah kesehatan, masalah kesehatan yang tidak ditangani, pakaian yang kurang memadai (pada musim dingin), ditinggalkan.

    • Sexual Abuse Termasuk menggunakan anak untuk tindakan sexual, mengambil gambar pornografi anak-anak, atau aktifitas sexual lainnya kepada anak.

    Gambar 5. Cedera Pada Genetalia Laki – laki

    genital1

    Gambar 6. Cedera Pada Genetalia Perempuan

    genital2

    Indikator fisik – kesulitan untuk berjalan atau duduk, adanya noda atau darah di baju dalam, nyeri atau gatal di area genital, memar atau perdarahan di area genital/ rektal, berpenyakit kelamin.
    Indikator kebiasaan – pengetahuan tentang seksual atau sentuhan seksual yang tidak sesuai dengan usia, perubahan pada penampilan, kurang bergaul dengan teman sebaya, tidak mau berpartisipasi dalam kegiatan fisik, berperilaku permisif/ berperilaku yang menggairahkan, penurunan keinginan untuk sekolah, gangguan tidur, perilaku regressif (misal: ngompol)

    FAKTOR RESIKO
    Menurut Helfer dan Kempe dalam Pillitery ada 3 faktor yang menyebabkan child abuse4 , yaitu
    1. Orang tua memiliki potensi untuk melukai anak-anak. Orang tua yang memiliki kelainan mental, atau kurang kontrol diri daripada orang lain, atau orang tua tidak memahami tumbuh kembang anak, sehingga mereka memiliki harapan yang tidak sesuai dengan keadaan anak. Dapat juga orang tua terisolasi dari keluarga yang lain, bisa isolasi sosial atau karena letak rumah yang saling berjauhan dari rumah lain, sehingga tidak ada orang lain yang dapat memberikan support kepadanya.
    2. Menurut pandangan orang tua anak terlihat berbeda dari anak lain. Hal ini dapat terjadi pada anak yang tidak diinginkan atau anak yang tidak direncanakan, anak yang cacat, hiperaktif, cengeng, anak dari orang lain yang tidak disukai, misalnya anak mantan suami/istri, anak tiri, serta anak dengan berat lahir rendah(BBLR). Pada anak BBLR saat bayi dilahirkan, mereka harus berpisah untuk beberapa lama, padahal pada beberapa hari inilah normal bonding akan terjalin.
    3. Adanya kejadian khusus : Stress. Stressor yang terjadi bisa jadi tidak terlalu berpengaruh jika hal tersebut terjadi pada orang lain. Kejadian yag sering terjadi misalnya adanya tagihan, kehilangan pekerjaan, adanya anak yang sakit, adanya tagihan, dll. Kejadian tersebut akan membawa pengaruh yang lebih besar bila tidak ada orang lain yang menguatkan dirinya di sekitarnya Karena stress dapat terjadi pada siapa saja, baik yang mempunyai tingkat sosial ekonomi yag tinggi maupun rendah, maka child abuse dapat terjadi pada semua tingkatan.
    untitled
    Menurut Rusel dan Margolin, wanita lebih banyak melakukan kekerasan pada anak, karena wanita merupakan pemberi perawatan anak yang utama. Sedangkan laki-laki lebih banyak melakukan sex abuse, ayah tiri mempunyai kemungkinan 5 sampai 8 kali lebih besar untuk melakukannya daripada ayah kandung (Smith dan Maurer)

    AKIBAT CHILD ABUSE
    Anak yangmengalami kekerasan/ penganiayaan akan berakibat panjang. Mereka akan mengalamigangguan belajar, retardasi mental, gangguan perkembangan temasuk perkembangan bahasa, bicara, motorik halusnya. Dalam penelitian juga diperoleh bahwa IQ anak yang mengalami kekerasan/penganiayaan akan rendah daripada yang tidak. Mereka juga mengalami gangguan dalam konsep diri dan hubungan sosial. Teman-teman menganggap mereka sebagai anak yang suka menyendiri atau pembuat onar. Hal ini akan berlanjut hingga dewasa, dalam memilih pasangan hidup.

    PENCEGAHAN
    Pencegahan dapat dilakukan dengan mengurangi kemungkinan terjadinya kekerasan pada anak dan di rumah tangga. Pencegahan primer dapat dilakukan dengan melakukan pendidikan kesehatan tentang child abuse dan mengidentifikasi resiko terjadinya child abuse.
    Hal yang dapat dilakukan oleh perawat adalah dengan memberikan pendidikan kepada keluarga tentang pertumbuhan dan perkembangan anak, serta cara menghadapi stress saat menjadi orang tua. Browne mengemukakan, setidaknya skrening melibatkan 3 orang perawat yang akan datang pada 9 bulan pertama kehidupan. Pada kunjungan pertama dilakukan pengkajian atas adanya faktor yang berhubungan dengan abuse dan neglect, Pada kunjungan selanjutnya perawat mengexplorasi persepsi orang tua tentang tentang anak dan stressor si keluarga. Pada kunjungan ke tiga perawat melihat kembali tentang kebiasaan bayi dan pengasuhannya. Mengamati pertumbuhan dan perkembangannya, dan membantu orang tua untuk mengenali perkembangan yang sesuai dengan usia anak. Orang tua yang beresiko menjadi abusive parents akan memiliki perkiraan yang tidak realistik tentang pertumbuhan dan perkembangan anak, misalnya bayi berusia 6 bulan dianggap harus didisiplinkan karena tidak dapat mengikuti toilet training. (Smith and Maurer, 1995) 5
    Selain hal di atas, perawat juga hendaknya mengamati hubungan antara orang tua dengan anak. Salah satu indikator kunci adalah kurangnya bonding antara ibu dan anak. . Bila bonding lemah, maka perawat dapat meningkatkan pegasuhan dan kepercayaan diri orang tua sebagai pengasuh anak.

    PROSES KEPERAWATAN
    A. Pengkajian
    Perawat seringkali menjadi orang yang pertamakali menemui adanya tanda adanya kekerasan pada anak (lihat indicator fisik dn kebiasaan pada macam-macam child abuse di atas). Saat abuse terjadi, penting bagi perawat untuk mendapatkan seluruh gambarannya, bicaralah dahulu dengan orang tua tanpa disertai anak, kemudian menginterview anak. 6
    1. Identifikasi orang tua yang memiliki anak yang ditempatkan di rumah orang lain atau saudaranya untuk beberapa waktu.
    2. Identifikasi adanya riwayat abuse pada orang tua di masa lalu, depresi, atau masalah psikiatrik.
    3. Identifikasi situasi krisis yang dapat menimbulkan abuse
    4. Identifikasi bayi atau anak yang memerlukan perawatan dengan ketergantungan tinggi (seperti prematur, bayi berat lahir rendah, intoleransi makanan, ketidakmampuan perkembangan, hiperaktif, dan gangguan kurang perhatian)
    5. Monitor reaksi orang tua observasi adanya rasa jijik, takut atau kecewa dengan jenis kelamin anak yang dilahirkan.
    6. Kaji pengetahuan orang tua tentang kebutuhan dasar anak dan perawatan anak.
    7. Kaji respon psikologis pada trauma
    8. Kaji keadekuatan dan adanya support system
    9. Situasi Keluarga
    abuse1

    B. Diagnosa Keperawatan

    Contoh diagnosa keperawatan yang dapat ditegakkan: 7,8
    1. Resiko gangguan dalam proses menjadi orang tua (Parenting, risk for impaired)
    2. Gangguan dalam prosen menjadi orang tua (Parenting, impaired)
    3. Post – Trauma Syndrome
    4. Pain related to burn on hand
    5. Risk for injury related to previous abuse
    6. Inefective family coping as manifested by child abuse to alcohol by father

    C. Intervensi 9

    intervensi3

    intervensi21

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Pilliteri, Adele, Child Health Nursing: Care of the Child and family, vol. 2, Lippincott, Philadelphia, p. 1060

    2. Pilliteri, Adele, Child Health Nursing: Care of the Child and family, vol. 2, Lippincott, Philadelphia, p. 1060
    3. http//www.uen.org
    4. Pilliteri, Adele, Child Health Nursing: Care of the Child and family, vol. 2, Lippincott, Philadelphia, p. 1062
    5. Smith, Claudia M., Maurer, Frances A., (1995), Community health nursing: theory and practice, WB Saunders Company, Philadelphia
    6. Pilliteri, Adele, Child Health Nursing: Care of the Child and family, vol. 2, Lippincott, Philadelphia
    7. Pilliteri, Adele, Child Health Nursing: Care of the Child and family, vol. 2, Lippincott, Philadelphia
    8. Wilkinson, Judith M, (2005) Prentice Hall Nursing Diagnosis Handbook with NIC Interventions and NOC Outcomes, 8th ed., Person Prentice Hall, Upper Saddle River
    9. Wilkinson, Judith M, (2005) Prentice Hall Nursing Diagnosis Handbook with NIC Interventions and NOC Outcomes, 8th ed., Person Prentice Hall, Upper Saddle River

    Manajemen Terpadu Balita Sakit


    SEJARAH MTBS

    Dasar Pemikiran Situasi kesehatan bayi dan anak Indonesia belum stabil, banyak yang menderita sakit atau cacat
    Sama halnya dengan negara berkembang lain
    Sebab kematian dan kesakitan masih menunjukan pola lama yaitu Diare, ISPA, Malaria, Gizi kurang dan gizi buruk
    Jangkauan imunisasi belum mencakup semua golongan anak
    Dari 1000 bayi yang lahir, 85 orang akan meninggal sebelum usia 5 tahun

    Therapi Bermain


    BERMAIN SEBAGAI UPAYA MENUMBUHKAN KEPRIBADIAN ANAK

    Coba renungkan !!!……
     mengapa begitu banyak para pejabat tinggi negara kita,baik eksekutif maupun legislatif kerap “mempertontonkan” sikap berebut kursi, mau menang sendiri, menyalah-nyalahkan orang lain, hingga merasa dirinya paling benar ?

    Coba tengok televisi ……???
     Kakek dan nenek menggoyangkan pinggulnya di televisi mengikuti alunan lagu-lagu country ……..

    Coba diam sejenak…!!!!
     Kita sering dengar orang tua kita memarahi adik kita, bahkan mungkin …….kita sendiri,
    – Main melulu, mau jadi anak yang bodoh ya !!!
    – Dasar pemalas, belajar !!!!

    ILMU JIWA PERKEMBANGAN
     Anak yang melalui tahap-tahap perkembangan secara harmonis dan tidak terkekang , mereka memiliki peluang yang cukup bebas, akan menjadi anak yang penuh kegembiraan dan sarat dengan semangat hidup
     Anak seperti ini akan tumbuh menjadi orang dewasa yang stabil dan seimbang dalam menjalani hidup ini.
     Menghilangkan masa kanak-kanak berarti menggelincirkan masyarakat itu sendiri menjadi masyarakat yang infantil atau kekanak-kanakan.

    ANAK
     Tumbuh
     Berkembang

    BERMAIN
     Cara alamiah bagi anak untuk mengungkapkan konflik dalam dirinya yang tidak disadari (Wholey & Wong, 1995)
     Bermain terdiri atas tanggapan yang diulang untuk kesenangan tanpa mempertimbangkan hasil akhir (Piaget dan Hurlock, 1991)
     Kegiatan untuk dapat belajar menguasai dunia dan peran sosial (Cohen, 1993)

    PENDAPAT LAIN
     Kegiatan yang dilakukan sesuai dengan keinginan sendiri untuk memperoleh kesenangan (Foster)
     Ungkapan behasa secara alami yang diekspresikan melalui bio-psiko-sosial yang berhubungan dengan lingkungan (Smith , 1991)
     Bentuk pertama anak belajar dan beradaptasi dengan lingkungan, mendapatkan kesenangan (Brucker & Wallin, 1996)

    WHAT IS PLAY THERAPY
     Play gives children the opportunity to search for and experiment with alternative solutions to their problems (Jerome Singer)
     Play is a child’s work and this is not a trivial pursuit (Alfred Adler)
     Play affords direct access to a child’s unconscious. Play for the child is like free association for the adult (Melanie Klein)

    Indications that a child may benefit from play therapy include ;

    • Low self esteem
    • Excessive anger, worry, sadness, or fear
    • Behavior which immature for the child’s age
    • Failure to learn or other school problems
    • Behavior which interferes with making friends
    • Problem with eating, sleep, or elimination
    • Preoccupation with sexual behavior
    • Physical symptoms such as headaches and stomach aches which have no medical cause
    • Difficulty adjusting to family changes
    • Talking about not wanting to live
    • Excessive shyness
    • Experiencing trauma such as chronic illness etc.

    KLASIFIKASI BERMAIN
     Menurut karakteristik sosial:
    – Onlooker play
    – Solitary play
    – Paralel play
    – Assosiative play
    – Cooperative play

     Menurut isinya:
    – Social afectif play
    – Sense of pleasure play
    – Skill play
    – Dramatic play/role play

    KATEGORI BERMAIN ( Hurlock, 1991)

     Bermain aktif —— kesenangan timbul dari apa yang dilakukan oleh individu
    – bermain bebas dan spontan/eksplorasi, drama, bermain musik, koleksi sesuatu, olah raga
     Bermain pasif/hiburan —– kesenangan diperoleh dari kegiatan oranglain, tanpa mengeluarkan banyak energi
    – Membaca, mendengarkan radio, nonton televisi

    FUNGSI BERMAIN
    1. Perkembangan sensorik-motorik
    2. Perkembangan kognitif
    3. Perkembangan sosial
    4. Perkembangan kreatifitas
    5. Terapi
    6. Perkembangan komunikasi
    7. Perkembangan moral
    8. Konsep diri

    TAHAP PERKEMBANGAN BERMAIN

    1. Tahap eksplorasi
    2. Tahap permainan
    3. Tahap bermain
    4. Tahap melamun

    FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BERMAIN
    1. Tahap perkembangan
    2. Perkembangan motorik
    3. Intelegensia
    4. Status sosial ekonomi
    5. Status kesehatan
    6. Jenis kelamin
    7. Alat permainan
    8. Lingkungan
    9. Jumlah waktu bebas

    KESALAHAN YANG SERING DIBUAT DALAM MEMILIH ALAT PERMAINAN
    1. Ortu memberikan sekaligus banyak macam alat permainan
    2. Banyak ortu membeli alat permainan yang mereka pikir indah dan menarik
    3. Banyak ortu membayar mahal untuk alat permainan
    4. Alat permainan terlalu lengkap/sempurna sehingga sedilkit peluang bagi anak untuk melakukan eksplorasi dan konstruksi
    5. Alat permainan tidak sesuai dengan umur anak , terlalu tua/muda terhadap alat permainan
    6. Memberikan terlalu banyak alat permainan dengan tipe yang sama
    7. Banyak ortu yang tidak meneliti keamanan terhadap alat permainannya

    JENIS PERMAINAN
    Bayi ( 1 Bulan)
     Visual — mendekatkan benda yang terang dan menyolok (20-30 cm)
     Auditory — bicara dengan bayi, menyanyi, bercanda,main musik, dengar radio
     Tactile — memeluk bayi, menggendong bayi, beri kehangatan
     Kenetic — naik kereta dorong, diayun

    Bayi (2-3 bulan)
     Visual — buat ruangan menjadi terang, tempel gambar di dinding, pasang cermin di dinding
     Auditory –bicara dengan bayi, mainan yang berbunyi, ikut sertakan dalam pertemuan keluarga
     Tactile –membelai bayi waktu memandikan, mengganti pakaian bayi, menyisir rambut bayi
     Kenetic — jalan-jalan naik kereta dorong, gerakan berenang saat mandi di ember

    Bayi (4-6 bulan)
     Visual — beri mainan warna terang, mencolok, bercermin, nonton TV
     Auditory — ajak bicara, panggil namanya, ulangi suara yang dibuat, meremas kertas , mainan berbunyi
     Tactile — Beri mainan dgn berbagai texture,mandi dimasukkan ember
     Kenetic — bantu tengkurap dan duduk dll

    Bayi (6-9 bulan)
     Visual — berikan mainan warna-warni yang bergerak, main ciluk- baa
     Auditory — ajari tepuk tangan, panggil namanya dan orangtua, sebut bagian tubuh,
     Tactile — beri mainan dengan berbagai texture, gerakan air mengalir, berenang
     Kenetic — gunakan baby walker, kereta dorong, letakkan mainan jauh dari anak, ajari anak berdiri

    Bayi 9-12 bulan)
     Visual — perlihatkan gambar dalam buku, ajak ke berbagai tempat, tunjuk bangunan agak jauh
     Auditory — tunjuk bagian tubuh dan sebut namanya, kenalkan suara binatang
     Tactile — berikan mainan yang dapat dipegang, kenalkan benda dingin/hangat
     Kenetic — beri mainan yang dapat ditarik dan didorong

    Todler (1-3 tahun)
     Mulai mengerti arti memiliki
     Menyenangi musik, irama
     Senang berebut mainan dan bertengkar dengan teman
     Senang melempar, mendorong, mengambil sesuatu, dapat berjalan, memanjat, lari
     Karakteristik :paralel dan solitary play
     Jenis mainan: boneka, kereta tarik, alat masak, bola dengan berbagai ukuran, cerita dan buku bergambar, pasir/tanah liat, kertas, crayon dll

    Pra sekolah (3-5 tahun)
     Dapat berlompat, berlari, dapat naik sepeda roda tiga
     Sangat energik
     Bermain dengan kelompok teman
     karakteristik: assosiatif play, skill play
     Jenis mainan : sepeda roda tiga, alat masak, olahraga, menghitung, boneka tangan, mobil, kapal terbang dll

    Usia sekolah (6-12 tahun)
     Karakteristik: kooperatif play
     Bermain dengan kelompok yang berjenis kelamin sama
     Dapat belajar independent, cooperatif, bersaing, menerima orang lain
     Tingkah laku diterima teman sebaya
     Laki-laki – mechanical
     Perempuan — mother role

    Remaja (13-20 tahun)
     Karakteristik permainan :keahlian, video/komputer
     Bermain dalam kelompok teman — main sepak bola, basket, bulu tangkis
     Senang mendengar music
     Melihat TV
     Dengarkan radio
     Baca majalah atau buku cerita, novel

    ASUHAN KEPERAWATAN


    PENGKAJIAN
    – Umur anak, jenis kelamin,jenis penyakit,status emosi, permainan yang disukai,kebiasaan bermain setiap hari
    – Riwayat kesehatan,kontra indikasi
    – Orangtua menunggui/tidak dlm bermain
    – Apakah ada kelainan pd waktu bermain

    PERENCANAAN BERMAIN
     Buat jadwal
     Buat prioritas tindakan
     Libatkan anak dan keluarga untuk memilih mainan
     Rumuskan tujuan bermain
     Tentukan waktu / lama permainan

    PELAKSANAAN
     Alat permainan didekatkan pada anak
     Motivasi anak untuk bermain
     Libatkan keluarga dalam pelaksanaan bermain
     Bantu anak — jika tidak bisa melakukan
     Berikan reinforcement — jika berhasil
     Observasi keadaan umum selama bermain

    EVALUASI
     Dokumentasikan pelaksanaan bermain dalam status perawatan
     Adakah rasa tidak nyaman
     Masalah yang muncul selama bermain
     Anak bermain sesuai tumbang
     Ortu mengerti pentingnya bermain
     Ada jalinan kerjasama antara ortu, anak, perawat

    Pertumbuhan dan Perkembangan Anak


    Tumbuh Kembang Anak